Jika Memiliki Cinta dan Benci, Janganlah Berlebihan



Oleh : Ali Akbar bin Aqil*


HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Cinta dan benci adalah sesuatu yang alami. Namun jika berlebih-lebihan maka kurang baik.

 


Di antara cinta yang berbahaya adalah sikap fanatisme pada kelompok, Ormas, partai dan sejenis. Hal ini akan menimbulkan sikap ghuluw.

 

 

Jika berlebihan dengan kelompoknya, maka akan muncul klaim kelompok di luarnya tidak baik atau salah. Bahwa ustad di luar kelompoknya, pasti salah, sesat dan menyesatkan, dan ini merupakan sikap tercela.

 


Klaim bahwa kalau urusan umat tidak dipegang kelompoknya bisa salah semua adalah klaim yang berlandaskan pada sikap fanatik. Dan ini tidak baik.

 


Kita hidup dalam keaneragaman agama, ajaran, budaya, dan madzhab. Dibutuhkan sikap toleran bukan intoleran. Dibutuhkan sikap kedewasaan bukan kekanak-kanakan. Dibutuhkan sikap lapang dada bukan sempit pikiran dan wawasan.

 

Rasulullah bersabda :

 

 

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

 

“Cintailah orang yang engkau cintai seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR: Turmudzi)

 

Hadits ini berisi nasihat yang memberi petunjuk kepada kita agar bersikap moderat dan menghilangkan sikap berlebihan dalam mencintai dan membenci seseorang atau sesuatu.

 

Bisa jadi, kita di pagi ini menyukai seseorang dengan rasa suka yang melebihi batas, sampai-sampai ia melihat hanya orang yang ia cintailah orang yang terbaik. Namun siapa sangka di sore hari, hati berubah menjadi benci sebenci-bencinya.

 


Di sore hari, kita sangat membenci seseorang, bisa jadi keesokan hari kita berubah menjadi cinta kepadanya. Tentu keadaan ini akan membuat kita malu sebab kita sudah terlanjur sebelumnya mengatakan hal-hal yang tidak baik kepadanya.

 


Solusi dari semua itu adalah bersikap adil dan obyektif. Kalau benar katakan benar meski bukan dari kelompoknya. Kalau salah katakan salah meski dari kelompoknya sendiri. Dasari setiap rasa cinta dan benci karena Allah bukan berdasarkan dari mana dia, siapa dia, apa kelompoknya, apa partainya, apa madzhabnya.

 


Cinta yang karena Allah akan memompa semangat kita untuk saling mengasihi dalam urusan kebaikan dan kemaslahatan bersama, dengan tujuan meraih ridha Allah SWT. Cinta semacam inilah yang dijanjikan oleh Allah yang mendapat naungan di akhirat kelak, naungan keselamatan dan kebahagiaan.

 


Demikian pula dalam urusan benci. Ada dua macam benci:

 

Pertama, benci yang terpuji dan dianjurkan. Yaitu kebencian kita dari perbuatan maksiat dan kemunkaran. Benci kepada perbuatan orang-orang kafir dan ahli maksiat.

 

 

Kedua,  benci yang tercela. Yaitu sikap saling membenci sesama umat Islam tanpa sebab yang jelas selain dilatari oleh kedengkian di hati. Sikap ini akan mencerabut kekokohan persaudaraan menjadi terurai bercerai berai, merusak hubungan persaudaraan dan menggoncang kehidupan sosial yang sebelumnya berjalan harmonis.  Wallahu a’lam bishshawab [ ]

 

Sumber: hidayatullah.com

 

Editor: iman