Khutbah Jumat: Asal Penciptaan Manusia dan Keturunannya


Oleh: Ustadz Supriatna,S.Pd*

*penulis adalah Ketua DPD Kab.Bandung

 

Khutbah Pertama:

 

الحمد لله الذي خلق الإنسان من طين

وجعل له السمع والأبصار والأفئدة ليتفكر ويتدبر

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له

 وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

 صلوات ربي وسلامه عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين

أما بعد، وقال الله تعالى ؛

يٰۤـاَيُّهَا النَّا سُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّا حِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَا لًا كَثِيْرًا وَّنِسَآءً ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهٖ وَا لْاَ رْحَا مَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

(QS. An-Nisa' 4: Ayat 1)

 

Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullāh,

marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ, Pencipta kita dari jiwa yang satu. Dengan merenungi asal mula penciptaan diri kita, selayaknya kita semakin tunduk, taat, dan bertakwa kepada-Nya.

 

Allah ﷻ berfirman dalam permulaan wahyu:

 

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ () خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ () اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَ كْرَمُ

 

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia.” (QS. Al-‘Alaq: 1–3)

 

Melalui ayat ini, Allah ﷻ mengajarkan kepada kita agar senantiasa menyadari asal-usul penciptaan manusia, sekaligus mengenal dan mengagungkan Sang Pencipta.

 

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Berikut ini ayat-ayat Allah ﷻ yang menjelaskan tahapan penciptaan manusia:

 1. Penciptaan Nabi Adam ‘alaihissalām

Allah ﷻ menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa penciptaan Nabi Adam ‘alaihissalām sebagai manusia pertama dan bapak seluruh umat manusia berlangsung melalui beberapa tahapan;

 

👉 Fase Turab (tanah kering/berdebu)

 

ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن تُرَابٖ

 

“Dia menciptakan kamu dari tanah,” (QS. Fathir: 1)

 

👉 Fase Thin (tanah liat bercampur air)

 

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن طِينٖ

 

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah liat.” (QS. Al-Mu’minun: 12)

 

👉 Fase Hama’ Masnun (lumpur hitam)

 

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ

 

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (QS  Al-Hijr: 26)

 

👉 Fase Shalshal Kal-Fakhkhar (tanah kering seperti tembikar)

 

خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ كَٱلۡفَخَّارِ

 

“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.”  (QS. Ar-Rohman: 14)

 

Dari fase-fase inilah Allah ﷻ membentuk Nabi Adam ‘alaihissalām, sebagai manusia pertama sekaligus bapak seluruh umat manusia, sebagai tanda nyata kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan-Nya.

---

 

 2. Penciptaan Pasangan Adam ‘alaihissalām

 

Setelah Adam diciptakan, Allah ﷻ menciptakan Hawa dari diri adam sendiri sebagai pasangan hidupnya.

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ

وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا

 

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya (Hawa),” (QS. An-Nisa ayat 1)

 

Diriwayatkan dalam beberapa tafsir:

Ketika Allah ﷻ telah menciptakan Nabi Adam ‘alaihis salam dan menempatkannya di surga, Adam hidup sendirian. Maka Allah ﷻ berkehendak menjadikan pendamping untuknya agar ada ketenangan dan kasih sayang.

 

Allah ﷻ membuat Adam tertidur.

Lalu Allah mengambil salah satu tulang rusuk kirinya. Dari tulang rusuk itu, Allah menciptakan seorang perempuan yang diberi nama Hawa’.

 

Setelah Adam terbangun, ia melihat sosok perempuan di sisinya. Malaikat bertanya:

"Siapakah ini wahai Adam?"

Adam menjawab: "Seorang wanita."

Mereka bertanya lagi: "Untuk apa ia diciptakan?"

Adam menjawab: "Agar aku merasa tenang bersamanya."

 

Rosulullah ﷺ bersabda :

 

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ

 

“Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk” (HR  Muslim)

 

 3. Penciptaan Bani Adam ‘alaihissalām

 

Setelah Adam dan Hawa lalu berkembang biaklah Bani Adam sebagai umat manusia yang banyak terdiri dari laki-laki dan perempuan.

 

وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ

 

Serta dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS. An-Nisa ayat 1)

 

Allah ﷻ menjelaskan proses kejadian manusia secara rinci dari setetes mani hingga menjadi makhluk sempurna.

 

إِنَّا خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٍ أَمۡشَاجٖ

 

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur,” (QS. Al-Insan ayat 2)

 

ثُمَّ جَعَلۡنَٰهُ نُطۡفَةٗ فِي قَرَارٖ مَّكِينٖ () ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَٰمٗا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَٰمَ لَحۡمٗا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ

 

“Kemudian Kami jadikan air mani itu berada dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian Kami jadikan mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, lalu daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun: 13–14)

 

Sebuah hadist riwayat Bukhari dan Muslim menjelaskan kembali dengan rinci

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً

“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani),

 

ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ

kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu juga (40 hari),

 

ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ

kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu juga (40 hari).

 

ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ

Kemudian diutuslah malaikat kepadanya, lalu meniupkan ruh ke dalamnya,

 

Demikianlah proses penciptaan Bani Adam, hingga akhirnya sampai kepada kita semua sebagai generasi penerus umat manusia.

 

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,

Selain itu, Allah ﷻ juga memperlihatkan kesempurnaan dan kekuasaan-Nya melalui beragam penciptaan yang istimewa.

 

Penciptaan Nabi ‘Īsā bin Maryam ‘alaihissalām yang lahir tanpa seorang ayah.

 

Penciptaan Nabi Ishāq, putra Nabi Ibrāhīm ‘alaihissalām, dari Sarah yang sebelumnya mandul dan keduanya telah lanjut usia.

 

Penciptaan Nabi Yahyā, putra Nabi Zakariyā ‘alaihissalām, dari seorang ibu yang mandul dan orang tua yang telah tua renta.

 

Semua ini menjadi bukti nyata bahwa tidak ada sesuatu pun yang mustahil bagi Allah. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki sebagai tanda kekuasaan-Nya.

 

Oleh karena itu tidak sepatutnya ada keraguan tentang hari kebangkitan, meskipun tubuh manusia telah hancur menjadi tanah. Sebab, Allah ﷻ yang menciptakan kita dari tanah pada permulaan, tentu mampu mengulanginya kembali.

 

Allah ﷻ berfirman:

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ

 

“Wahai manusia, jika kamu ragu tentang kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah.” (QS. Al-Ḥajj: 5)

 

Bahkan Allah ﷻ menegaskan bahwa mengulangi penciptaan itu lebih mudah bagi-Nya:

 

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ

 

“Dan Dialah yang menciptakan (makhluk) pada permulaan, kemudian mengulanginya kembali, dan mengulanginya itu lebih mudah bagi-Nya.” (QS. Ar-Rūm: 27)

 

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم

---

 

Khutbah Kedua:

 

الحمد لله الذي خلق فسوى، والذي قدر فهدى

 وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له

 وأشهد أن محمداً عبده ورسوله

 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita merenung kembali, asal penciptaan kita adalah dari tanah, kita hidup di atas tanah, makan minum dari hasil yang ditumbuhkan tanah dan kelak akan kembali ke dalam tanah. Kemudian, dari tanah itulah Allah ﷻ akan membangkitkan kita kembali pada hari yang telah Dia tetapkan.

 

Allah ﷻ berfirman:

 

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

 

“Dari bumi (tanah) itu Kami menciptakan kamu, dan ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya pula Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Ṭāhā: 55)

 

Semoga ayat-ayat ini semakin menguatkan iman kita, menyadarkan kita akan kepastian hari kebangkitan, dan mendorong kita untuk mempersiapkan bekal terbaik berupa iman dan amal saleh sebelum kembali menghadap Allah ﷻ.

 

اللهم أنت خلقتنا من تراب، وأقمتنا في هذه الدنيا وإليك مصيرنا ومعادنا، فاجعلنا من عبادك الصالحين

 

اللهم ذكّرنا بأصل خلقنا، ولا تجعلنا من المتكبرين وثبّت قلوبنا على طاعتك حتى نلقاك وأنت راضٍ عنا

 

اللهم إنا نسألك علماً نافعاً، ورزقاً طيباً، وعملاً متقبلاً وقلباً خاشعاً، ولساناً ذاكراً، وجسداً على البلاء صابراً

 

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين