Khutbah Jumat: Hadiah Istimewa dari Peristiwa Isra’ Mi‘raj


Oleh: Ustadz Supriatna,S.Pd*

*penulis adalah Ketua DPD Hidayatullah Kab.Bandung

 

Khutbah Pertama:

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ

وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

مَّا بَعْدُ

فَياَ عِبَادَ الله، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله

فَإِنَّهُ حَبْلُ الله الْـمَتِين

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

pada hari ini kita mengenang peristiwa agung dalam sejarah Islam, yaitu Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad ﷺ

 

Isra’: perjalanan dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha yang ada di Palestina

Mi‘raj: dinaikkan ke langit, bertemu para nabi, dan menerima perintah shalat lima waktu

 

Inilah sebuah perjalanan luar biasa yang Allah ﷻ perjalankan hamba-Nya dalam satu malam, sebagai tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya.

 

Allah ﷻ berfirman:

 

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَى ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

 

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya, untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isrā’: 1)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullāh,

Sebelum Allah ﷻ memuliakan Rasulullah ﷺ dengan peristiwa Isra’ Mi‘raj, beliau terlebih dahulu diuji dengan kesedihan yang sangat berat. Istri tercinta Khadijah radhiyallāhu ‘anhā wafat, disusul pamannya Abu Thalib, lalu dakwah beliau ditolak dan disakiti di Thaif, sehingga tahun itu dikenal dalam sirah Nabi ﷺ sebagai ‘Āmul Ḥuzn (Tahun Kesedihan).

 

Setelah Rasulullah ﷺ melewati berbagai kesedihan itu dengan penuh kesabaran, Allah ﷻ memberikan penghiburan dengan memperjalankan beliau dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian membuka pintu-pintu langit dan menghadiahkan ibadah yang istimewa, yaitu shalat lima waktu.

 

Dalam Hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

 

فَفُرِضَتْ عَلَيَّ الصَّلَاةُ خَمْسِينَ صَلَاةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ

فَنَزَلْتُ فَمَرَرْتُ عَلَى مُوسَىٰ فَقَالَ: مَاذَا فُرِضَ عَلَىٰ أُمَّتِكَ؟

قُلْتُ: فُرِضَ عَلَيْهِمْ خَمْسُونَ صَلَاةً

قَالَ: فَارْجِعْ إِلَىٰ رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ

فَلَمْ أَزَلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ وَبَيْنَ مُوسَىٰ

حَتَّىٰ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ

لِكُلِّ صَلَاةٍ عَشْرٌ، فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلَاةً

 

“Maka diwajibkan kepadaku shalat lima puluh kali dalam sehari semalam. Aku pun turun dan bertemu Musa, lalu ia bertanya: ‘Apa yang diwajibkan kepada umatmu?’ Aku menjawab: ‘Lima puluh shalat.’ Ia berkata: ‘Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan.’

Aku terus bolak-balik antara Tuhanku dan Musa, hingga Allah berfirman: ‘Wahai Muhammad, shalat itu lima waktu sehari semalam, setiap shalat bernilai sepuluh, maka itulah lima puluh shalat.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Masya Allah ternyata shalat yang kita laksanakan 5X sehari bernilai 50X, sungguh hadiah yang istimewa.

 

Hadirin sidang Jumat rahimakumullāh,

karena shalat adalah ibadah yang sangat istimewa, maka sudah sepantasnya kita melaksanakannya dengan benar dan hati-hati

 

 Shalat yang benar harus didirikan dengan;

 

 1. Khusu’

Yaitu dilaksanakan karena Allah semata, inilah shalat orang mukmin yang akan mendapat keberuntungan

 

قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ . ٱلَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَٰشِعُونَ

 

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya,” (Al-Mu’minūn: 1–2)

 

Dan inilah shalat yang akan jadi penolong menghadapi ujian

 

وَاسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

 

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sungguh, shalat itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)

 

 2. Shalat Haafidzun

Yaitu yang memelihara shalatnya baik dari rukun, syarat, waktu dan bacaannya. Inilah shalatnya pewaris surga

 

وَٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمْ يُحَافِظُونَ . أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْوَٰرِثُونَ

ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

 

“Dan orang-orang yang memelihara shalat-shalat mereka. Merekalah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi (Surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (Al-Mu’minūn: 9–11)

 

 Namun ada juga shalat yang dilakukan dengan tidak benar, yaitu:

 

 1. Shalat orang yang riya

Yaitu orang yang melaksanakan shalat bukan karena Allah, serta dilakukan dengan malas tidak mengingat  Allah. Inilah shalatnya orang munafik yang shalatnya hanya tipuan belaka

 

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

 

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, padahal Allah-lah yang membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas, mereka berbuat riya kepada manusia, dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (QS. An-Nisā’: 142)

 

 2. Shalat orang yang lalai

Yaitu orang yang shalat tapi tidak menjaga waktu, rukun, syarat maupun bacaannya, maka inilah shalat yang tetap membawa kecelakaan

 

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ . ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

 

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang mereka lalai terhadap shalatnya.”  (Surah Al-Mā‘ūn: 4–5)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullāh,

janganlah kita menyia-nyiakan shalat yang merupakan hadiah agung dari peristiwa Isra’ Mi‘raj Rasulullah ﷺ. Shalat bukan sekedar kewajiban, tetapi karunia langsung dari Allah ﷻ untuk umat Nabi Muhammad ﷺ, didalamnya terdapat munajat-munajat untuk semua hajat kita.

 

أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم

ولسائر المسلمين

فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

---

 

Khutbah Kedua:

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضٰى

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Peristiwa Isra’ Mi‘raj mengingatkan kepada kita untuk selalu mensyukuri nikmat ibadah shalat dengan terus meningkatkan kualitas shalat kita.

 

Orang yang benar shalatnya, dikerjakan dengan ikhlas, khusyuk, serta dijaga rukun, syarat, dan waktunya, niscaya akan terjaga dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.

 

Hal ini ditegaskan langsung oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya QS. Al-‘Ankabūt: 45

 

ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

 

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sungguh, mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 

Maka shalat yang benar akan membentuk akhlak, menjaga perilaku, dan menjadi benteng dari kemaksiatan. Jika shalat belum mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, maka yang perlu kita perbaiki adalah kualitas shalat kita.

 

Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mendirikan shalat dengan ikhlas dan khusyu.

 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ

وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُقِيْمِيْنَ لِلصَّلَاةِ

وَمِنَ الْخَاشِعِيْنَ فِيْهَا

وَمِنَ الَّذِيْنَ تَنْهَاهُمْ صَلَاتُهُمْ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ

وَأَحْسِنْ خَوَاتِيْمَنَا

وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً

وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً

وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ

وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ