Kultum Ramadhan Hari ke-6: Menjadi Muslim Produktif, Mengubah Lelah Menjadi Lillah

 


*penulis adalah anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar


Memasuki hari keenam Ramadhan, tantangan fisik biasanya mulai terasa nyata. Di saat inilah sering kali muncul godaan besar: keinginan untuk menjadi "kaum rebahan" seharian dengan dalih menghemat energi. Namun, jika puasa dijadikan alasan untuk bermalas-malasan atau abai terhadap tanggung jawab pekerjaan dan keluarga, kita perlu merenungkan kembali hakikat ibadah kita.


Puasa: Sebuah Gerakan Aktif, Bukan Pasif

Banyak yang terjebak pada pemikiran bahwa tidur saat puasa adalah ibadah. Memang benar jika tujuannya untuk menghindari maksiat, namun tujuan utama puasa yang ditegaskan Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 adalah meraih ketakwaan:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”



Perlu kita garis bawahi bahwa Taqwa adalah sebuah kata kerja yang aktif. Ia menuntut kesigapan dalam menjalankan perintah-Nya dan kewaspadaan terhadap larangan-Nya, bukan sekadar berbaring pasif sambil menghabiskan waktu di media sosial.



Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam sebuah hadits shahih mengenai dua kenikmatan yang sering menipu manusia:


نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ


“Dua kenikmatan yang sering membuat manusia tertipu adalah: Kesehatan dan Waktu Luang.” (HR. Bukhari)


Strategi Menjaga Produktivitas di Tengah Rasa Lapar

Agar kita tetap berdaya dan tidak menyerah pada rasa kantuk, berikut adalah langkah praktis untuk menjaga produktivitas dalam keseharian:


  1. Optimalkan Morning Prime Time: Manfaatkan waktu emas setelah sahur dan Subuh saat udara masih segar untuk menyelesaikan pekerjaan terberat Anda. Hindari tidur kembali setelah Subuh agar keberkahan waktu tetap terjaga.
  2. Lakukan Digital Fasting: Scrolling media sosial sering kali menguras energi mental dan emosional secara sia-sia. Kurangi aktivitas digital yang tidak perlu dan gantilah dengan dzikir ringan untuk menjaga fokus serta ketenangan batin selama bekerja.
  3. Bangun Ekosistem Produktif di Rumah: Ayah dan Ibu harus menjadi teladan dengan melibatkan anak-anak dalam aktivitas bermanfaat, seperti merapikan rumah atau menyiapkan hidangan berbuka. Ajarkan mereka bahwa puasa adalah tentang kontribusi dan "memberi", bukan sekadar berdiam diri menunggu adzan Maghrib.
  4. Mengingat Spirit Pejuang Terdahulu: Ingatlah bahwa kemenangan besar seperti Perang Badar dan Pembebasan Kota Mekah (Fathu Makkah) justru terjadi di bulan Ramadhan. Para sahabat membuktikan bahwa perut kosong bukanlah hambatan untuk mencetak prestasi dan kemenangan besar.

Mengubah Lelah Menjadi Pahala

Ramadhan adalah perlombaan maraton, dan kita baru saja melewati kilometer awal. Jangan biarkan "virus malas" menghalangi kita untuk meraih derajat taqwa yang sesungguhnya. Jadikan setiap tetes keringat dalam bekerja dan setiap detik kesabaran dalam mengurus keluarga sebagai saksi di hadapan Allah bahwa kita adalah hamba yang produktif.


Semoga Allah SWT memberkahi setiap langkah kita dan senantiasa menjauhkan kita dari sifat malas. Wallahu a’lam bish-shawab.[ ]