Memasuki hari
keenam Ramadhan, tantangan fisik biasanya mulai terasa nyata. Di saat inilah
sering kali muncul godaan besar: keinginan untuk menjadi "kaum
rebahan" seharian dengan dalih menghemat energi. Namun, jika puasa
dijadikan alasan untuk bermalas-malasan atau abai terhadap tanggung jawab
pekerjaan dan keluarga, kita perlu merenungkan kembali hakikat ibadah kita.
Puasa:
Sebuah Gerakan Aktif, Bukan Pasif
Banyak yang
terjebak pada pemikiran bahwa tidur saat puasa adalah ibadah. Memang benar jika
tujuannya untuk menghindari maksiat, namun tujuan utama puasa yang ditegaskan
Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 adalah meraih ketakwaan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai
orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Perlu kita garis
bawahi bahwa Taqwa adalah sebuah kata kerja yang aktif. Ia menuntut
kesigapan dalam menjalankan perintah-Nya dan kewaspadaan terhadap larangan-Nya,
bukan sekadar berbaring pasif sambil menghabiskan waktu di media sosial.
Rasulullah SAW
juga mengingatkan dalam sebuah hadits shahih mengenai dua kenikmatan yang
sering menipu manusia:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ
فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua
kenikmatan yang sering membuat manusia tertipu adalah: Kesehatan dan Waktu
Luang.” (HR. Bukhari)
Strategi
Menjaga Produktivitas di Tengah Rasa Lapar
Agar kita tetap
berdaya dan tidak menyerah pada rasa kantuk, berikut adalah langkah praktis
untuk menjaga produktivitas dalam keseharian:
- Optimalkan Morning
Prime Time: Manfaatkan waktu
emas setelah sahur dan Subuh saat udara masih segar untuk menyelesaikan
pekerjaan terberat Anda. Hindari tidur kembali setelah Subuh agar
keberkahan waktu tetap terjaga.
- Lakukan Digital
Fasting: Scrolling media sosial
sering kali menguras energi mental dan emosional secara sia-sia. Kurangi
aktivitas digital yang tidak perlu dan gantilah dengan dzikir ringan untuk
menjaga fokus serta ketenangan batin selama bekerja.
- Bangun Ekosistem
Produktif di Rumah: Ayah dan Ibu harus
menjadi teladan dengan melibatkan anak-anak dalam aktivitas bermanfaat,
seperti merapikan rumah atau menyiapkan hidangan berbuka. Ajarkan mereka
bahwa puasa adalah tentang kontribusi dan "memberi", bukan
sekadar berdiam diri menunggu adzan Maghrib.
- Mengingat Spirit Pejuang Terdahulu: Ingatlah bahwa kemenangan besar seperti Perang Badar dan Pembebasan Kota Mekah (Fathu Makkah) justru terjadi di bulan Ramadhan. Para sahabat membuktikan bahwa perut kosong bukanlah hambatan untuk mencetak prestasi dan kemenangan besar.
Mengubah
Lelah Menjadi Pahala
Ramadhan adalah
perlombaan maraton, dan kita baru saja melewati kilometer awal. Jangan biarkan
"virus malas" menghalangi kita untuk meraih derajat taqwa yang
sesungguhnya. Jadikan setiap tetes keringat dalam bekerja dan setiap detik
kesabaran dalam mengurus keluarga sebagai saksi di hadapan Allah bahwa kita
adalah hamba yang produktif.
Semoga Allah SWT
memberkahi setiap langkah kita dan senantiasa menjauhkan kita dari sifat malas.
Wallahu a’lam bish-shawab.[ ]

