*penulis adalah Anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar
HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Di sisa perjalanan yang kian menipis ini, ada sebuah kerinduan besar yang seharusnya menyelinap di sela-sela sujud kita; kerinduan untuk mengakhiri segalanya dengan indah. Inilah yang kita kenal sebagai Husnul Khatimah.
Husnul Khatimah
adalah buah dari sebuah perjalanan panjang bernama ketaatan.
Sebab, bagaimana kita mati, sering kali merupakan cerminan dari bagaimana kita
hidup. Allah SWT yang Maha Rahman tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang
telah berusaha keras menjaga hatinya di jalan yang lurus.
Allah SWT
memberikan penegasan bagi mereka yang teguh dalam kebaikan dalam Surah
An-Nahl ayat 32:
الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ
ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“(Yaitu)
orang-orang yang wafat dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan
(kepada mereka): 'Salamun 'alaikum' (keselamatan sejahtera bagimu), masuklah ke
dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan'.”
Rahasia
di Balik Penutup yang Indah
Rasulullah SAW
memberikan kunci penting bahwa penilaian sesungguhnya dari sebuah amalan
terletak pada bagaimana amalan itu ditutup. Beliau bersabda:
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya
setiap amalan itu tergantung pada akhirnya.”
(HR. Bukhari)
Ramadhan ini
adalah waktu latihan terbaik untuk menjemput akhir yang baik tersebut. Kita
belajar memutus kebiasaan buruk, belajar bersabar menahan lapar, dan belajar
merundukkan ego di hadapan Sang Khalik. Jika kita bisa menutup Ramadhan ini
dengan kualitas ketaatan yang meningkat, maka itu adalah pertanda baik bahwa
Allah SWT sedang menuntun kita menuju Husnul Khatimah.
Langkah-langkah
Kecil yang Membawa Kita Pulang dengan Indah
Untuk meraih Husnul
Khatimah, kita tidak perlu melakukan hal-hal yang di luar jangkauan kemampuan
kita. Cukuplah dengan menjaga konsistensi dalam hal-hal kecil yang tulus:
- Menjaga Niat Tetap
Murni. Di hari-hari terakhir Ramadhan, saat
lelah mulai melanda, perbaruilah niat. Katakan pada hati bahwa setiap
rakaat shalat dan setiap ayat yang dibaca adalah surat cinta terakhir kita
untuk Allah SWT. Kejujuran niat inilah yang akan "mengundang"
datangnya hidayah saat ajal menjemput.
- Memperbanyak Doa dan
Munajat. Seringlah memohon ketetapan hati
agar tidak tergelincir di saat-saat terakhir. Doa yang paling sering
dipanjatkan Nabi SAW adalah:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ
قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah
hatiku di atas agama-Mu.
- Memaafkan Sesama.
Akhir yang indah sulit diraih jika hati masih menyimpan bara dendam kepada
sesama manusia. Jadikan sisa Ramadhan ini sebagai momentum untuk mencuci
hati; maafkanlah orang-orang di sekitar kita agar perjalanan kita
menuju-Nya menjadi lebih ringan tanpa beban pertanggungjawaban sosial yang
tertunda.
- Membangun Kenangan
Baik dalam Keluarga. Bagi para orang
tua, wariskanlah "jejak ketaatan" yang indah di mata anak-anak.
Biarkan kenangan terakhir mereka tentang kita adalah wajah yang teduh saat
tadarus atau lisan yang lembut saat menasehati. Kebaikan yang kita
tanam dalam ingatan mereka adalah doa-doa tulus yang akan mengalir saat
kita telah tiada.
Penutup:
Harapan di Garis Finis
Janganlah merasa
terlambat jika dirasa awal Ramadhan kita belum maksimal. Allah SWT adalah Dzat
yang Maha Menghargai setiap usaha. Di malam ke-24 nanti ini, mari kita
kumpulkan sisa kekuatan untuk memberikan penutupan terbaik.
Seorang hamba yang
rindu bertemu Allah SWT, maka Allah SWT pun rindu bertemu dengannya. Mari kita
jemput perjumpaan itu dengan ketaatan yang paling jujur, agar saat malaikat
maut datang menyapa, ia membawa kabar gembira dan salam keselamatan.
Semoga Allah
mengaruniakan kita kemampuan untuk mengakhiri Ramadhan ini, dan kelak
mengakhiri hidup ini, dalam dekapan sujud dan balutan keridhaan-Nya. Wallahu
a’lam bish-shawab. [ ]

