Kultum Ramadhan Hari Ke-23: Menjadi Pribadi yang Bermanfaat, Menebar Maslahat, Menjemput Cinta Ilahi

*penulis adalah Anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar


HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Di tengah keheningan sepuluh malam terakhir, saat kita sibuk mengetuk pintu langit dengan doa-doa pribadi, ada satu dimensi ibadah yang seringkali terlupakan: ibadah sosial. Sejatinya, kesalehan sejati harus memancar keluar menjadi manfaat bagi sesama makhluk-Nya.


Islam mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang tidak dilihat dari seberapa tinggi kedudukannya atau seberapa banyak hartanya, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang lain.


Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’un ayat 1-3 sebagai pengingat keras bagi kita:


أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ . فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ . وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ


“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”


Tolok Ukur Manusia Terbaik

Rasulullah SAW memberikan definisi yang sangat indah dan sederhana tentang siapa manusia yang paling dicintai Allah. Beliau bersabda:


خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ


“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad & Thabrani)


Hadits ini adalah sebuah visi hidup. Menjadi bermanfaat tidak harus menunggu kita menjadi kaya atau berkuasa. Manfaat bisa hadir melalui ilmu yang diajarkan, tenaga yang disumbangkan, waktu yang dipinjamkan untuk mendengar keluh kesah sahabat, atau bahkan sekadar senyuman tulus yang meringankan beban hati orang lain.


Menghidupkan "Budaya Memberi" dalam Keluarga


Di sisa Ramadhan ini, mari kita bawa semangat kebermanfaatan ini ke dalam rumah kita melalui langkah-langkah yang nyata:


  • Mendidik Anak Menjadi "Pemberi". Ajaklah anak-anak untuk memilih mainan atau pakaian layak pakai mereka untuk disedekahkan. Ajarkan mereka bahwa kebahagiaan sejati bukan saat kita menerima, melainkan saat kita melihat binar bahagia di mata orang yang kita bantu.

  • Menjadi Oasis bagi Tetangga: Ramadhan adalah momen terbaik untuk mempererat silaturahmi. Berbagi sepiring hidangan berbuka atau menanyakan kabar tetangga yang sedang kesulitan adalah bentuk kebermanfaatan yang sangat dicintai Allah SWT.

  • Kebermanfaatan Digital. Mulailah menggunakan jari-jari kita untuk menebar inspirasi, bukan caci maki. Di zaman ini, membagikan informasi yang benar dan memotivasi adalah sedekah jariyah yang manfaatnya bisa menembus batas ruang dan waktu.

  • Bermanfaat dengan Keahlian: Jika kita seorang dokter misalnya, maka berikan konsultasi ringan bagi kerabat yang membutuhkan. Jika kita seorang guru, berikan motivasi belajar bagi anak-anak di lingkungan sekitar. Apapun profesi kita, selipkanlah niat ibadah di dalamnya agar ia menjadi jalan kebermanfaatan.


Penutup: Hadiah Bagi Sang Penolong


Ingatlah janji indah dari Rasulullah SAW:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ


“Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim).


Saat kita sibuk memudahkan urusan orang lain, secara otomatis Allah SWT akan mengambil alih urusan-urusan kita. Di malam-malam berburu Lailatul Qadr ini, mari kita imbangi sujud panjang kita dengan tangan yang ringan membantu sesama. Karena mungkin saja, pintu surga kita terbuka bukan karena banyaknya rakaat shalat kita, melainkan karena doa tulus dari orang yang hidupnya terbantu oleh keberadaan kita.


Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang namanya senantiasa disebut dengan kebaikan oleh penduduk bumi dan dicintai oleh para penduduk langit. Wallahu a’lam bish-hawab.[ ]