Kultum Ramadhan Hari Ke-22: I’tikaf, Dialog "Intim" dengan Sang Pencipta

*penulis adalah Anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar


HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Di sepertiga terakhir Ramadhan ini, ada sebuah undangan istimewa yang datang langsung dari langit. Sebuah undangan untuk sejenak "menghilang" dari hiruk-pikuk dunia dan masuk ke dalam sebuah perjumpaan eksklusif dengan Allah SWT melalui ibadah I’tikaf.


Secara maknawi, I’tikaf adalah upaya kita untuk mengurung hati hanya bersama Penciptanya, memutuskan ketergantungan sejenak dari media sosial, tumpukan pekerjaan, dan kebisingan interaksi manusia, demi mendengarkan bisikan hidayah-Nya dalam keheningan.


Allah SWT menyebutkan syariat mulia ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 187:


.وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ.      


“...dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istri kamu), sedang kamu beriktikaf dalam masjid...”


Meneladani Sang Baginda dalam Kesunyian


Rasulullah SAW adalah sosok yang paling merindukan momen-momen kedekatan yang mendalam ini. Aisyah RA menceritakan bagaimana rutinnya Nabi SAW menjalankan ibadah ini di akhir masa hidup beliau:






أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ


“Sesungguhnya Nabi SAW senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sampai Allah mewafatkannya.” (HR. Bukhari & Muslim)


Dalam kesunyian masjid, Rasulullah SAW tidak sedang melarikan diri dari tanggung jawab, melainkan sedang mengisi kembali kekuatan batin untuk menghadapi tantangan dakwah yang berat. Begitu pula kita; I’tikaf adalah cara kita "mengisi daya" jiwa agar lebih tangguh dan bijaksana saat kembali menghadapi dunia.


Mewujudkan Suasana I’tikaf yang Ihsan


Bagi kita yang mungkin memiliki keterbatasan waktu karena tuntutan pekerjaan atau tanggung jawab keluarga, I’tikaf tetap bisa dijalankan dengan cara yang tetap khidmat:


  • Menciptakan "Waktu Henti" (Silence Hour). I’tikaf adalah momen untuk meminimalkan bicara dengan makhluk dan memaksimalkan dialog dengan Khalik. Cobalah kita letakkan ponsel sejenak atau menonaktifkannya. Berikan hak pada hati untuk tidak diganggu oleh notifikasi dunia demi menjaga kemurnian muwajahah kita dengan Allah SWT.

  • Muhasabah yang Jujur: Gunakan waktu I’tikaf untuk berbicara jujur pada diri sendiri di hadapan-Nya. Tanyakan pada hati: “Ke mana arah hidupku selama ini? Apa yang paling aku takutkan saat bertemu Allah SWT nanti?” Tangisan dalam kesunyian I’tikaf adalah pembersih karat-karat yang selama ini mengeraskan hati.

  • Melibatkan Keluarga dalam Ridha. Bagi para suami yang beri’tikaf di masjid, pastikan kebutuhan keluarga di rumah telah tercukupi dan sampaikanlah maksud ibadah ini dengan penuh kasih sayang. I’tikaf bukanlah pelarian dari tanggung jawab domestik, melainkan upaya kepala keluarga untuk menjadi pribadi yang lebih teduh dan bijak saat pulang nanti.

  • Menebar Kedamaian di Rumah Allah. Di dalam masjid, tunjukkanlah akhlak yang mulia. Jangan sampai keberadaan kita justru mengganggu kenyamanan orang lain. Jadikan kehadiran kita sebagai sumber ketenangan bagi sesama jamaah yang juga sedang merajut kedekatan dengan Allah SWT.

Penutup: Hadiah Ketenangan


I’tikaf adalah cara Allah SWT memberikan "istirahat" bagi jiwa-jiwa yang lelah didekap kesibukan. Saat kita melangkah keluar dari masjid nanti, harapannya bukan hanya raga yang segar, tapi cara pandang kita terhadap kehidupan pun berubah menjadi lebih jernih.


Mari kita manfaatkan malam-malam ganjil yang tersisa untuk mengetuk pintu rahmat-Nya melalui dialog intim ini. Semoga Allah SWT menerima setiap detik waktu yang kita wakafkan dengan tulus untuk-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab. [ ]