HIDAYATULLAHJABAR.COM
- - Di sepertiga terakhir Ramadhan ini, ada
sebuah undangan istimewa yang datang langsung dari langit. Sebuah undangan
untuk sejenak "menghilang" dari hiruk-pikuk dunia dan masuk ke dalam
sebuah perjumpaan eksklusif dengan Allah SWT melalui ibadah I’tikaf.
Secara maknawi,
I’tikaf adalah upaya kita untuk mengurung hati hanya bersama Penciptanya,
memutuskan ketergantungan sejenak dari media sosial, tumpukan pekerjaan, dan
kebisingan interaksi manusia, demi mendengarkan bisikan hidayah-Nya dalam
keheningan.
Allah SWT
menyebutkan syariat mulia ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 187:
.وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ
عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ.
“...dan
janganlah kamu campuri mereka (istri-istri kamu), sedang kamu beriktikaf dalam
masjid...”
Meneladani
Sang Baginda dalam Kesunyian
Rasulullah SAW
adalah sosok yang paling merindukan momen-momen kedekatan yang mendalam ini.
Aisyah RA menceritakan bagaimana rutinnya Nabi SAW menjalankan ibadah ini di
akhir masa hidup beliau:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ
“Sesungguhnya
Nabi SAW senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sampai Allah
mewafatkannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Dalam kesunyian
masjid, Rasulullah SAW tidak sedang melarikan diri dari tanggung jawab,
melainkan sedang mengisi kembali kekuatan batin untuk menghadapi tantangan
dakwah yang berat. Begitu pula kita; I’tikaf adalah cara kita "mengisi
daya" jiwa agar lebih tangguh dan bijaksana saat kembali menghadapi dunia.
Mewujudkan
Suasana I’tikaf yang Ihsan
Bagi kita yang
mungkin memiliki keterbatasan waktu karena tuntutan pekerjaan atau tanggung
jawab keluarga, I’tikaf tetap bisa dijalankan dengan cara yang tetap khidmat:
- Menciptakan
"Waktu Henti" (Silence Hour). I’tikaf
adalah momen untuk meminimalkan bicara dengan makhluk dan
memaksimalkan dialog dengan Khalik. Cobalah kita letakkan ponsel
sejenak atau menonaktifkannya. Berikan hak pada hati untuk tidak diganggu
oleh notifikasi dunia demi menjaga kemurnian muwajahah kita dengan
Allah SWT.
- Muhasabah yang
Jujur: Gunakan waktu I’tikaf untuk
berbicara jujur pada diri sendiri di hadapan-Nya. Tanyakan pada hati: “Ke
mana arah hidupku selama ini? Apa yang paling aku takutkan saat bertemu
Allah SWT nanti?” Tangisan dalam kesunyian I’tikaf adalah pembersih
karat-karat yang selama ini mengeraskan hati.
- Melibatkan Keluarga
dalam Ridha. Bagi para suami yang beri’tikaf
di masjid, pastikan kebutuhan keluarga di rumah telah tercukupi dan
sampaikanlah maksud ibadah ini dengan penuh kasih sayang. I’tikaf bukanlah
pelarian dari tanggung jawab domestik, melainkan upaya kepala keluarga
untuk menjadi pribadi yang lebih teduh dan bijak saat pulang nanti.
- Menebar Kedamaian di
Rumah Allah. Di dalam masjid, tunjukkanlah
akhlak yang mulia. Jangan sampai keberadaan kita justru mengganggu
kenyamanan orang lain. Jadikan kehadiran kita sebagai sumber ketenangan
bagi sesama jamaah yang juga sedang merajut kedekatan dengan Allah SWT.
Penutup:
Hadiah Ketenangan
I’tikaf adalah
cara Allah SWT memberikan "istirahat" bagi jiwa-jiwa yang lelah
didekap kesibukan. Saat kita melangkah keluar dari masjid nanti, harapannya
bukan hanya raga yang segar, tapi cara pandang kita terhadap kehidupan pun
berubah menjadi lebih jernih.
Mari kita
manfaatkan malam-malam ganjil yang tersisa untuk mengetuk pintu rahmat-Nya
melalui dialog intim ini. Semoga Allah SWT menerima setiap detik waktu
yang kita wakafkan dengan tulus untuk-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab. [ ]

