*penulis
adalah anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah
Jabar
Hari kesepuluh
Ramadhan 2026 menandai sebuah titik penting: akhir dari fase pertama yang penuh
rahmat. Kita mungkin merasa bangga dengan deretan hari puasa yang berhasil
dilalui, namun di relung hati yang paling dalam, sering kali masih ada
dosa-dosa tersembunyi yang mengganjal—dusta kecil, pandangan yang tak terjaga,
hingga lisan yang tanpa sadar melukai sesama.
Malam ini, mari
kita pelajari sebuah "seni ibadah" yang mulai langka: Menangis
karena dosa, dan tersenyum karena ampunan. Allah SWT memberikan gambaran
indah tentang hamba-Nya yang bertaubat dalam QS. Ali 'Imran ayat 135:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا
فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ
وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ
"Dan
(juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri
sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan
siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?"
Kerinduan
akan Ampunan yang Manis
Rasulullah SAW
mengajarkan sebuah doa yang sarat akan harapan kepada Siti Aisyah RA (HR.
Tirmidzi dan Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani):
اللَّهُمَّ إِنَّكَ
عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
"Ya
Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, maka
maafkanlah aku."
Ketahuilah, Allah
tidak hanya sekadar menghapus dosa; Dia benar-benar merasa senang ketika
seorang hamba datang tersungkur memohon ampunan-Nya.
4
Langkah "Taubat Emosional" untuk Keluarga
Menjelang
berakhirnya sepertiga pertama Ramadhan, mari kita bersihkan hati untuk
menyambut fase ampunan dengan langkah praktis berikut:
- Tangisan Sahur
Pribadi: Luangkan waktu 5 menit sebelum
menyantap hidangan sahur untuk menyendiri. Ingatlah kekhilafan kita kepada
orang tua, ketidaktulusan dalam bekerja, atau waktu yang terbuang sia-sia.
Biarkan air mata jatuh karena penyesalan—sebab satu tetes air mata karena
takut kepada Allah mampu memadamkan api neraka.
- Lingkaran Taubat
Keluarga: Sekali waktu, duduklah
melingkar bersama anak dan pasangan. Jangan ragu untuk berkata, "Maafkan
Ayah yang terkadang terlalu keras," atau "Maafkan Ibu
yang kurang sabar." Dengan ini, anak-anak belajar bahwa kemuliaan
seseorang bukan karena tidak pernah salah, melainkan karena keberaniannya
untuk bertaubat.
- Istighfar Spesifik
di Keheningan Fajar: Saat berdzikir di
waktu fajar yang hening, sebutkan dosa-dosa kita dalam hati secara
spesifik. Biarkan lisan yang basah dengan "Astaghfirullah"
perlahan-lahan mencuci noda hitam dalam hati kita.
- Senyum Harapan
(Raja'): Setelah menangis karena menyesal,
tersenyumlah! Yakinlah bahwa rahmat Allah mendahului murka-Nya. Buktikan
perubahan itu dengan tindakan nyata: tangan yang dulu digunakan maksiat
kini rajin bersedekah, dan lisan yang dulu tajam kini menjadi dakwah yang lembut.
Jangan
Putus Asa, Ampunan-Nya Menanti
Sering kali setan
membisikkan bahwa dosa kita terlalu besar untuk diampuni. Padahal, seorang
pendosa yang bertaubat dengan tulus jauh lebih dicintai Allah daripada ahli
ibadah yang sombong. Allah memanggil kita dengan mesra dalam QS. Az-Zumar
ayat 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ
الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسَهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
"Katakanlah:
Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri!
Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya."
Semoga air mata
penyesalan dan senyum harapan kita hari ini menjadi saksi keselamatan kita di
akhirat kelak. Wallahu a’lam. [ ]

