*penulis
adalah Anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar
HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Memasuki fase
pertengahan Ramadhan, kita seringkali dihadapkan pada tantangan psikologis dan
fisik yang tidak mudah. Jika di hari-hari awal semangat kita membara, kini rasa
lelah mulai menyapa. Fenomena ini dalam dunia spiritual Islam dikenal dengan
istilah Futur—yakni kondisi menurunnya semangat setelah
sebelumnya berada dalam puncak ketaatan.
Ramadhan adalah
maraton, bukan lari cepat (sprint). Pemenangnya bukanlah ia yang paling
kencang di garis start, melainkan ia yang konsisten bertahan hingga
garis finish.
1.
Memaknai Ulang Hakikat Puasa dan Produktivitas
Banyak yang
terjebak pada pemikiran bahwa Ramadhan adalah waktu untuk beristirahat total.
Padahal, Allah SWT menegaskan tujuan puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai
orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Taqwa adalah
sebuah "kata kerja" aktif. Ia menuntut kita untuk sigap menjalankan
perintah-Nya dan waspada terhadap larangan-Nya, bukan sekadar berbaring di sofa
sambil menghabiskan waktu di media sosial. Tidur saat puasa memang bernilai
ibadah jika bertujuan untuk menghindari maksiat, namun menjadi tercela jika
digunakan sebagai alasan untuk meninggalkan tanggung jawab duniawi maupun
pendidikan keluarga.
Kenikmatan
yang Sering Menipu
Waktu di bulan
Ramadhan sangatlah singkat—hanya 30 hari dalam setahun. Agar kita tidak
termasuk golongan yang merugi, ingatlah sabda Rasulullah SAW:
نِعْمَتَانِ
مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua
kenikmatan yang sering membuat manusia tertipu adalah: Kesehatan dan Waktu
Luang.” (HR. Bukhari)
Setiap detik yang
kita gunakan untuk "rebahan" tanpa makna adalah kerugian besar dari
tabungan pahala yang seharusnya bisa kita kumpulkan.
Istiqamah,
Kontinuitas di Atas Kuantitas
Kunci melawan
penyakit futur adalah dengan menjaga amalan agar tetap kontinu, meskipun
dalam porsi yang sedikit. Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan
yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (istiqamah) meskipun
sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim)
Allah SWT tidak
meminta kita beribadah tanpa merasa lelah, namun Allah SWT mencintai hamba-Nya
yang tetap "hadir" di hadapan-Nya meskipun raga sedang keletihan.
Jangan sampai kita menjadi hamba yang "panas di awal, mendingin di
tengah, dan menghilang di akhir".
Strategi
Praktis Menjaga Energi dan Semangat
Untuk menjaga
produktivitas dan melawan rasa malas di fase kedua Ramadhan ini, berikut adalah
langkah-langkah yang bisa kita terapkan dalam keluarga:
- Optimalisasi Morning
Prime Time: Gunakan waktu
setelah sahur dan Subuh sebagai waktu emas untuk menyelesaikan pekerjaan
terberat saat udara masih segar. Jangan tidur kembali setelah Subuh agar
keberkahan waktu tidak terputus.
- Senjata Power Nap
(Qailullah): Rasulullah SAW dan
para sahabat terbiasa tidur sejenak (15-20 menit) di siang hari. Tidur
singkat ini sangat efektif untuk me-reset energi agar kita kuat berdiri
lama saat shalat Tarawih malam nanti.
- Digital Fasting:
Seringkali energi kita terkuras bukan karena pekerjaan, melainkan karena
emosi negatif saat berselancar di media sosial. Kurangi scrolling
dan ganti dengan dzikir ringan untuk menjaga ketenangan batin.
- Variasi Ibadah dan
Kompetisi Positif: Agar keluarga tidak
jenuh, buatlah variasi dalam tadarus, misalnya sambil membahas arti
ayat secara ringan. Buatlah "Papan Progres" target harian untuk
menciptakan suasana kompetisi dalam kebaikan (Fastabiqul Khairat)
antar anggota keluarga.
Penutup
Mari kita tutup
setiap celah bagi penyakit futur yang ingin mencuri pahala Lailatul
Qadr kita. Jadikan setiap tetes keringat kerja dan setiap detik kesabaran
mendidik keluarga sebagai saksi bahwa kita adalah hamba yang produktif hingga
akhir Ramadhan.
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
“Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan rasa malas.”
Wallahu
a’lam bish-shawab. [ ]

