Kultum Ramadhan Hari ke-11: Menjaga Ritme Ibadah, Strategi Melawan Rasa Malas dan "Futur" di Tengah Ramadhan



*penulis adalah Anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar


HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Memasuki fase pertengahan Ramadhan, kita seringkali dihadapkan pada tantangan psikologis dan fisik yang tidak mudah. Jika di hari-hari awal semangat kita membara, kini rasa lelah mulai menyapa. Fenomena ini dalam dunia spiritual Islam dikenal dengan istilah Futur—yakni kondisi menurunnya semangat setelah sebelumnya berada dalam puncak ketaatan.


Ramadhan adalah maraton, bukan lari cepat (sprint). Pemenangnya bukanlah ia yang paling kencang di garis start, melainkan ia yang konsisten bertahan hingga garis finish.


1. Memaknai Ulang Hakikat Puasa dan Produktivitas

Banyak yang terjebak pada pemikiran bahwa Ramadhan adalah waktu untuk beristirahat total. Padahal, Allah SWT menegaskan tujuan puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”


Taqwa adalah sebuah "kata kerja" aktif. Ia menuntut kita untuk sigap menjalankan perintah-Nya dan waspada terhadap larangan-Nya, bukan sekadar berbaring di sofa sambil menghabiskan waktu di media sosial. Tidur saat puasa memang bernilai ibadah jika bertujuan untuk menghindari maksiat, namun menjadi tercela jika digunakan sebagai alasan untuk meninggalkan tanggung jawab duniawi maupun pendidikan keluarga.


Kenikmatan yang Sering Menipu

Waktu di bulan Ramadhan sangatlah singkat—hanya 30 hari dalam setahun. Agar kita tidak termasuk golongan yang merugi, ingatlah sabda Rasulullah SAW:


نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ


“Dua kenikmatan yang sering membuat manusia tertipu adalah: Kesehatan dan Waktu Luang.” (HR. Bukhari)



Setiap detik yang kita gunakan untuk "rebahan" tanpa makna adalah kerugian besar dari tabungan pahala yang seharusnya bisa kita kumpulkan.


Istiqamah, Kontinuitas di Atas Kuantitas

Kunci melawan penyakit futur adalah dengan menjaga amalan agar tetap kontinu, meskipun dalam porsi yang sedikit. Rasulullah SAW bersabda:


أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ


“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (istiqamah) meskipun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim)


Allah SWT tidak meminta kita beribadah tanpa merasa lelah, namun Allah SWT mencintai hamba-Nya yang tetap "hadir" di hadapan-Nya meskipun raga sedang keletihan. Jangan sampai kita menjadi hamba yang "panas di awal, mendingin di tengah, dan menghilang di akhir".


Strategi Praktis Menjaga Energi dan Semangat

Untuk menjaga produktivitas dan melawan rasa malas di fase kedua Ramadhan ini, berikut adalah langkah-langkah yang bisa kita terapkan dalam keluarga:


  • Optimalisasi Morning Prime Time: Gunakan waktu setelah sahur dan Subuh sebagai waktu emas untuk menyelesaikan pekerjaan terberat saat udara masih segar. Jangan tidur kembali setelah Subuh agar keberkahan waktu tidak terputus.
  • Senjata Power Nap (Qailullah): Rasulullah SAW dan para sahabat terbiasa tidur sejenak (15-20 menit) di siang hari. Tidur singkat ini sangat efektif untuk me-reset energi agar kita kuat berdiri lama saat shalat Tarawih malam nanti.
  • Digital Fasting: Seringkali energi kita terkuras bukan karena pekerjaan, melainkan karena emosi negatif saat berselancar di media sosial. Kurangi scrolling dan ganti dengan dzikir ringan untuk menjaga ketenangan batin.
  • Variasi Ibadah dan Kompetisi Positif: Agar keluarga tidak jenuh, buatlah variasi dalam tadarus, misalnya sambil membahas arti ayat secara ringan. Buatlah "Papan Progres" target harian untuk menciptakan suasana kompetisi dalam kebaikan (Fastabiqul Khairat) antar anggota keluarga.

Penutup

Mari kita tutup setiap celah bagi penyakit futur yang ingin mencuri pahala Lailatul Qadr kita. Jadikan setiap tetes keringat kerja dan setiap detik kesabaran mendidik keluarga sebagai saksi bahwa kita adalah hamba yang produktif hingga akhir Ramadhan.


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ


“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan rasa malas.”

Wallahu a’lam bish-shawab. [ ]