*penulis
adalah Anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Barat
HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Alhamdulillah, kita telah
memasuki hari ketiga Ramadhan 2026. Di awal perjalanan ini, semangat biasanya
masih membara. Namun, ada satu godaan besar yang sering membayangi orang yang
berpuasa: godaan untuk menjadi "kaum rebahan" seharian dengan dalih
menghemat energi.
Memang benar bahwa tidur di saat puasa bisa bernilai
ibadah jika tujuannya untuk menghindari maksiat atau mengumpulkan tenaga untuk
ibadah malam. Namun, jika puasa dijadikan alasan untuk bermalas-malasan,
meninggalkan tanggung jawab pekerjaan, atau abai terhadap pendidikan anak, maka
kita perlu merenungkan kembali hakikat puasa kita.
Taqwa Adalah "Kata Kerja" Aktif
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat
183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ
الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa."
Tujuan utama puasa adalah meraih Taqwa. Taqwa
adalah sebuah konsep aktif, bukan pasif. Ia menuntut kita untuk sigap
menjalankan perintah-Nya dan waspada terhadap larangan-Nya dalam kondisi apa
pun. Taqwa tidak lahir dari sekadar berbaring pasif sambil menghabiskan waktu
memantau media sosial.
Waspada terhadap "Pencuri" Waktu
Agar kita tidak terjebak dalam kelalaian, mari kita ingat
sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ:
الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
"Dua kenikmatan yang sering membuat manusia tertipu
(merugi) adalah: Kesehatan dan Waktu Luang." (HR.
Bukhari)
Ramadhan adalah waktu yang sangat singkat—ia hanya datang
30 hari dalam setahun. Betapa ruginya kita jika waktu yang seharusnya menjadi
tabungan pahala hancur tanpa makna karena rasa malas yang tidak terkendali.
4 Strategi Anti-Rebahan di Bulan Ramadhan
Bagaimana agar kita tetap produktif meski perut sedang
kosong? Berikut adalah empat strategi yang bisa kita terapkan dalam keluarga:
1.
Atur Ritme Energi (Morning Prime
Time): Gunakan waktu setelah sahur dan
Subuh sebagai "waktu emas". Saat pikiran masih segar, selesaikanlah
pekerjaan yang paling menuntut fokus. Hindari tidur kembali setelah Subuh jika
tidak darurat, karena di sanalah keberkahan waktu turun.
2.
Puasa "Lisan Digital" (Digital
Fasting): Sering kali energi kita habis
terkuras karena emosi negatif atau rasa lelah mental akibat media sosial.
Kurangi aktivitas scrolling yang tidak perlu. Gantilah dengan
dzikir ringan saat bekerja untuk menjaga ketenangan batin dan fokus kerja.
3.
Mendidik Produktivitas dalam Keluarga: Ayah dan Ibu, ajaklah anak-anak terlibat aktif.
Jangan biarkan mereka hanya bermain game seharian menunggu
buka. Libatkan mereka membantu merapikan rumah atau menyiapkan takjil. Ajarkan
mereka bahwa puasa adalah tentang "memberi dan beraksi", bukan
sekadar "berdiam diri".
4.
Mengingat Sejarah Besar: Perlu kita ketahui bahwa peristiwa besar seperti
Perang Badar dan Pembebasan Kota Mekah (Fathu Makkah) terjadi di bulan
Ramadhan. Para sahabat berjuang di bawah terik matahari yang jauh lebih berat
dari kondisi kita sekarang. Mereka membuktikan bahwa puasa justru menjadi mesin
pendorong kemenangan, bukan alasan untuk menyerah pada keadaan.
Penutup
Bayangkan Ramadhan adalah sebuah perlombaan maraton; kita
baru saja berada di kilometer awal. Jangan biarkan "virus rebahan"
mematikan semangat kita. Jadikan setiap tetes keringat saat bekerja dan setiap
detik kesabaran saat mendidik keluarga sebagai saksi di akhirat kelak bahwa
kita adalah hamba yang produktif.
Semoga Allah SWT memberkahi setiap langkah kita dan
menjauhkan kita dari sifat malas. Wallahu a’lam bish-shawab. [
]

