Kultum Ramadhan Hari ke-8: Puasa Jempol, Menjaga Lisan di Era Media Sosial


*penulis adalah anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar


Memasuki hari kedelapan Ramadhan 2026, tanpa disadari jempol kita mungkin lebih aktif daripada lisan kita. Sering kali, sesaat setelah beribadah, tangan kita langsung gelisah menggulir lini masa. Kita mungkin berhasil menahan lapar dan dahaga sejak fajar, namun sering kali kita lupa satu hal krusial: menahan "lisan digital" dari komentar pedas atau menyebarkan berita yang belum tentu benar.


Di era smartphone, ucapan bukan lagi soal bunyi dari mulut, melainkan dari satu klik "Kirim" yang bisa mengubah amal menjadi dosa. Allah SWT mengingatkan kita dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ... وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ


"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka lebih baik dari mereka... dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk."


Satu Ketikan yang Berakibat Fatal

Banyak yang menganggap remeh satu kalimat di kolom komentar. Namun, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras dalam hadits shahih:


إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ


"Sesungguhnya seorang hamba terkadang mengucapkan satu kata yang tidak ia pikirkan (dampaknya), sehingga ia tergelincir ke neraka lebih dalam dari jarak antara timur dan barat." (HR. Bukhari & Muslim)


Dulu petaka datang dari lidah, kini satu tombol "Enter" di grup percakapan bisa menjadi sumber dosa jariyah. "Hanya bercanda," kilah kita. Namun di sisi Allah, kata-kata yang menyakiti bisa menjauhkan kita dari pintu surga. Ramadhan ini, yuk kita mulai "Puasa Jempol".


5 Adab "Puasa Jempol" di Bulan Ramadhan

Mari terapkan tips praktis ini agar jempol kita membawa keberkahan, bukan bencana:


  1. Aturan 10 Detik: Berhenti sejenak selama 10 detik sebelum menekan tombol kirim. Tanyakan pada hati: "Apakah ini benar? Apakah perlu? Jika Rasulullah melihat ketikan ini, apakah beliau akan ridha?" Jika ragu, lebih baik hapus.
  2. Jangan Jadi Hakim Virtual: Hindari perdebatan yang tidak perlu atau menyebarkan hoaks. Ganti kebiasaan mengomentari hidup orang lain dengan mengetik dzikir atau berbagi info bermanfaat. Ramadhan adalah momentum memperbaiki diri, bukan menghujat.
  3. Parenting Medsos ala Ramadhan: Orang tua harus menjadi teladan. Jangan melarang anak bermain HP jika kita sendiri sibuk membicarakan keburukan orang lain melalui status. Ajari anak bahwa media sosial adalah alat inspirasi, bukan ajang pamer (riya').
  4. Hentikan Rantai Fitnah: Jika menerima berita yang menyudutkan atau belum jelas kebenarannya, cukup berhenti di Anda. Jangan menjadi "kurir" bagi informasi yang bisa merusak ukhuwah (persaudaraan).
  5. Bersihkan Riwayat Chat: Sebelum tidur, tinjau kembali percakapan kita hari ini. Jika ada kata yang melukai hati orang lain, segera minta maaf. Jangan biarkan dosa digital menghambat pahala puasa kita.

Menjadikan Jempol sebagai Saksi Kebaikan

Mari kita jadikan jempol kita sebagai saksi pembela di akhirat nanti. Status kita bisa menjadi ladang dakwah jika kita membiasakan tabayyun (cek fakta). Ingatlah bahwa tidak ada yang luput dari pengawasan-Nya:


وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ


"Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan." (QS. An-Nahl: 19)


Semoga di hari kedelapan ini, Allah menjaga lisan dan jempol kita agar senantiasa berada dalam kebaikan. Wallahu a’lam bish-shawab.[ ]