*penulis
adalah anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar
Hari
kesembilan Ramadhan 2026 akan kita jalani. Tanpa
terasa, kita hampir menyelesaikan sepertiga pertama bulan suci ini. Di tengah
rutinitas ibadah dan kesibukan harian, kita sering kali mencari kebahagiaan
pada hal-hal besar, padahal kuncinya sangat sederhana: Syukur.
Syukur adalah sikap hati yang mampu mengubah rasa
"cukup" menjadi "kaya raya". Allah SWT berjanji dalam QS.
Ibrahim ayat 7:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
Syukur
kepada Manusia: Jembatan Syukur kepada Allah
Islam mengajarkan
bahwa syukur kita kepada Allah belum sempurna jika kita abai berterima kasih
kepada sesama. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits shahih:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ
النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ
"Siapa
yang tidak berterima kasih kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada
Allah." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Bayangkan betapa
indahnya jika ibadah kita dilengkapi dengan apresiasi nyata: Ucapan
"terima kasih" yang tulus kepada istri yang menyiapkan sahur, kepada
suami yang lelah bekerja, atau kepada tetangga yang berbagi hidangan berbuka.
Itulah syukur nyata yang menghidupkan keberkahan dalam keluarga.
5
Langkah Menanam Syukur di Keluarga Ramadhan
Mari praktikkan
langkah-langkah ini mulai hari ini agar rumah tangga kita semakin penuh berkah:
- Ritual Syukur Saat
Berbuka: Sesaat setelah adzan Maghrib,
ajaklah anak-anak melihat hidangan di depan mereka. Katakan: "Lihat
nak, Allah memberi kita rezeki lagi hari ini." Biarkan rasa
syukur hadir di hati sebelum rasa kenyang di perut.
- Tafakur Fajar Tanpa
Gadget: Pasca-sahur, sempatkan duduk sejenak
menghirup udara pagi yang segar. Syukuri detak jantung dan napas yang
masih lancar. Ganti kebiasaan memeriksa ponsel dengan menghitung nikmat
Allah yang sering terlupakan.
- Papan Nikmat Rumah
Tangga: Sediakan sudut kecil di rumah untuk
menulis satu nikmat harian. Misalnya: "Alhamdulillah, ayah bisa
tarawih berjamaah," atau "Terima kasih ibu, sahur hari
ini hangat." Menghitung nikmat akan membuat keluhan perlahan
menghilang.
- Budayakan
"Terima Kasih" yang Tulus:
Gunakan momentum Ramadhan untuk melunakkan hati. Jangan segan mengucapkan
terima kasih atas bantuan kecil pasangan. Rumah yang penuh apresiasi
adalah rumah yang dicintai Allah.
- Jurnal Syukur
Sebelum Istirahat: Sebelum tidur,
ingat atau catatlah tiga hal bahagia yang dialami hari ini. Kebiasaan ini
akan membuat istirahat lebih tenang dan hati lebih siap menyambut hari
kesepuluh esok dengan lebih mantap.
Syukur:
Menjadi Kaya dalam Kesederhanaan
Syukur bukan
berarti kita sudah memiliki segalanya, melainkan merasa cukup sambil terus
menjemput ridha Allah. Orang yang paling bersyukur adalah orang yang paling
kaya, meskipun hartanya tampak biasa saja di mata dunia.
Mari kita tutup
renungan hari kesembilan ini dengan doa Nabi Sulaiman AS yang diabadikan dalam
Al-Qur'an:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ
أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ
"Ya
Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah
Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku..."
(QS. An-Naml: 19). Wallahu a’lam .[ ]

