Kultum Ramadhan Hari Ke-1: Reset Niat, Restart Kebaikan di Tengah Keluarga

 

Oleh: Ustadz Endang Abdul Rohman,S.Ag*

*penulis adalah anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Barat 

 

HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Alhamdulillah, gerbang penuh keberkahan Ramadhan 2026 telah terbuka lebar. Sebagai orang tua dan pendidik, awal Ramadhan bukan sekadar penanda dimulainya rasa lapar, melainkan momentum emas untuk merefleksi "madrasah pertama" kita, yaitu keluarga.


Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’la ayat 14-15:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ ۝ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ


"Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (bersih hatinya), dan dia mengingat nama Tuhannya lalu dia shalat."


Keberuntungan hakiki dimulai dari tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Mari jadikan hari pertama ini sebagai tombol "Reset" dan "Restart" bagi kehidupan rumah tangga kita.


1. Reset Niat: Kejujuran Hati di Depan Buah Hati

Niat adalah ruh dari setiap amal. Tanpanya, lelah kita hanyalah sia-sia. Rasulullah SAW bersabda:


إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى


"Sesungguhnya segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (Muttafaq 'Alaih)


Tips untuk Orang Tua:

Jujurlah pada diri sendiri. Sering kali kita mendidik anak demi pujian orang lain atau sekadar menggugurkan kewajiban. Malam ini, niatkan setiap tetes peluh saat menyiapkan sahur dan setiap kesabaran menghadapi rengekan anak semata-mata karena Allah. Anak-anak adalah "pembaca" kejujuran yang hebat; mereka merasakan keikhlasan yang memancar dari hati kita.


2. Restart Kebaikan dengan Kelembutan

Mengapa kebaikan di rumah sering kali "macet"? Biasanya karena rasa lelah yang berujung amarah. Padahal, kelembutan adalah perhiasan terbaik bagi seorang mukmin. Rasulullah SAW bersabda:


إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ


"Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya. Dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan ia akan membuatnya buruk." (HR. Muslim)


Mari mulai kembali cara kita berkomunikasi. Ganti bentakan dengan pelukan, dan ubah omelan menjadi doa. Jika kita ingin anak-anak mencintai ibadah, hiasilah ibadah itu dengan kelembutan, bukan paksaan yang menyisakan luka.


3. Investasi Abadi: Anak yang Shalih

Keshalihan keluarga adalah satu-satunya harta yang akan mendampingi kita melampaui pintu liang lahat. Rasulullah SAW bersabda:


إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ


"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim)


Munajat untuk Keluarga

Mari kita tundukkan kepala sejenak, memohon agar Ramadhan ini menjadi titik balik keberkahan bagi keluarga kita:


  • Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, ampunilah dosa kami, kedua orang tua kami, serta pasangan dan anak-anak kami.
  • Anugerahkanlah kepada kami keturunan yang menjadi penyejuk mata (qurrata a’yun).
  • Lembutkanlah hati kami dalam mendidik mereka. Jauhkanlah rumah kami dari amarah dan perpecahan.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا


"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74)

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [ ]