*penulis
adalah Anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar
HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Kita hidup di
zaman yang bergerak sangat cepat. Pikiran kita sering kali meloncat tak tentu
arah; saat bekerja kita memikirkan menu berbuka, namun saat berbuka kita justru
mencemaskan pekerjaan yang belum usai. Ironisnya, saat berdiri di hadapan Sang
Pencipta dalam shalat, pikiran kita sering kali berkelana memikirkan
segalanya kecuali Allah SWT.
Sering kali shalat
hanya menjadi gerakan mekanis yang hampa, padahal ia adalah
"istirahat" yang sejati. Shalat adalah satu-satunya momen di
mana kita diizinkan untuk "menghilang" sejenak dari hiruk-pikuk dunia
demi menghadap Sang Pencipta.
Allah SWT SWT
berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ
فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sungguh
beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam
shalatnya.” (QS. Al-Mu'minun : 1-2)
Khusyuk:
Obat Lelah Sang Baginda
Bagi Rasulullah
SAW, shalat bukan sekadar kewajiban, melainkan penyejuk hati dan obat
bagi rasa lelah. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda:
وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“...dan
dijadikan penyejuk hatiku (kebahagiaanku) di dalam shalat.”
(HR. An-Nasa'i & Ahmad)
Jika kita telah shalat
namun tetap merasa stres, mungkin ada yang perlu diperbaiki dari kualitas khusyuk
kita.
5
Teknik Praktis Menjemput Khusyuk
Bagaimana caranya
agar kita bisa benar-benar "hadir" dalam shalat di tengah
kesibukan? Berikut adalah langkah praktisnya:
- Ritual "Satu
Menit Menuju Allah SWT": Setelah berwudhu,
cobalah untuk tidak langsung bertakbir. Duduklah sejenak, letakkan
ponsel, dan katakan dalam hati: "Ya Allah, urusan dunia saya
titipkan sebentar di pintu masjid, biarkan hamba hanya bersama-Mu
sekarang."
- Pahami Makna Bacaan:
Khusyuk sulit dicapai jika lisan berucap namun hati tidak mengerti.
Minimal, hayatilah setiap kata dalam Al-Fatihah. Saat membaca "Iyyaka
na’budu", yakinkan kita sedang memperbarui janji setia kepada
Allah SWT di tengah badai godaan dunia.
- Gerakan yang Tenang
(Thuma'ninah): Rahasia khusyuk
terletak pada ketenangan. Jangan terburu-buru dalam ruku' dan sujud.
Ingatlah bahwa sujud adalah posisi terdekat seorang hamba dengan
Tuhannya. Lepaskan semua beban pikiran dan biarkan Allah SWT yang
menyelesaikannya.
- Visualisasi Shalat
Terakhir: posisikan shalat yang
kita lakukan—termasuk Tarawih malam ini—adalah shalat
terakhir sebelum maut menjemput. Dengan perasaan ini, hati akan fokus
total dan jempol kita tidak akan "gatal" untuk mengecek pesan.
- Kondisikan
Lingkungan Keluarga: Di rumah, ajarkan
anak-anak bahwa saat waktu shalat tiba, "Dunia Berhenti
Sejenak". Matikan televisi dan singkirkan gadget agar
terbangun komunikasi batin yang kuat dengan Allah SWT.
Manfaat
Nyata bagi Kehidupan
Bagi para pekerja
dan pegiat dakwah, khusyuk adalah "charger" energi yang
luar biasa. Shalat yang berkualitas terbukti mampu menurunkan hormon
stres dan menjernihkan pikiran. Sering kali, solusi bagi pekerjaan yang rumit
justru ditemukan setelah kita bersujud dengan tenang.
Penutup
Mari kita jadikan
momen ini sebagai titik balik agar shalat tidak lagi menjadi penggugur
kewajiban belaka, melainkan sebuah oasis ketenangan di tengah padang pasir
kesibukan dunia.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ
لَا يَخْشَعُ
“Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk.”
Wallahu a’lam.[ ]

