Kultum Ramadhan Hari Ke-18: Taubat Nasuha, Pulang ke Pelukan Rahmat-Nya Sebelum Waktu Usai


*penulis adalah Anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar


HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Kita sedang berdiri di ambang pintu sepuluh malam terakhir—sebuah fase krusial di mana ampunan Allah SWT dicurahkan seluas samudra. Namun, tahukah kita bahwa ampunan yang mahaluas itu hanya akan benar-benar meresap ke dalam hati yang telah "dikosongkan" melalui pintu Taubat Nasuha?


Sering kali kita terjebak dalam rasa percaya diri yang semu. Kita merasa masih punya banyak waktu dan berbisik dalam hati, “Nanti saja bertaubatnya kalau sudah tua,” atau “Tunggu malam ke-27 saja.” Padahal, ajal adalah rahasia yang tidak pernah berkompromi dengan kalender.


Allah SWT memanggil kita dengan penuh kasih dalam Surah An-Nur ayat 31:


وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ


“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.”


Kesempatan yang Berpacu dengan Waktu


Rasulullah SAW memberikan pengingat yang sangat menggetarkan tentang batas akhir diterimanya sebuah penyesalan:


إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ


“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di kerongkongan (sakaratul maut).” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)


Hadits ini adalah pesan harapan sekaligus peringatan. Harapan karena pintu maaf selalu terbuka selebar langit, namun menjadi peringatan karena kita tidak pernah tahu kapan "kerongkongan" itu akan menjadi pemberhentian terakhir napas kita.


Memahami Makna "Nasuha": Taubat yang Tulus


Bertaubat sejatinya melampaui lisan yang berucap istighfar sementara hati masih merencanakan dosa yang sama. Taubat yang tulus melibatkan tiga elemen kejujuran:

    1.Pengakuan yang jujur, dengan menyadari bahwa kita telah melampaui batas. Berhentilah mencari            pembenaran atas kesalahan kita di hadapan Allah SWT.

  1. Penyesalan yang mendalam, dengan merasakan kesedihan karena telah menjauh dari kasih sayang-Nya. Tangisan di tengah malam saat sujud adalah bahasa paling jujur seorang hamba.
    3.Transformasi amal. Taubat Nasuha berarti berjanji untuk tidak mengulangi dan mengganti setiap           "lubang" dosa dengan tumpukan amal shalih. Jika dulu lisan kita tajam menyakiti, kini gunakanlah         untuk tadarus. Jika dulu tangan kita berat untuk memberi, biarkan ia menjadi dermawan di sisa               Ramadhan ini.

Menjadi Teladan bagi Keluarga


Bagi para orang tua, momen ini adalah saat yang tepat untuk menunjukkan sisi keteladanan kita di depan anak-anak. Mereka perlu melihat orang tuanya bersimpuh dan bertaubat. Mereka perlu belajar bahwa manusia terbaik bukanlah manusia yang sempurna tanpa celah, melainkan manusia yang paling cepat bersujud dan kembali ketika ia terjatuh dalam khilaf.


Penutup: Jangan Berputus Asa


Malam ini adalah kesempatan emas. Jangan biarkan keraguan atau rasa malu menghalangi kita untuk "pulang". Allah menyukai orang yang berlari kembali kepada-Nya setelah lama tersesat.


Ingatlah pelukan hangat ampunan Allah SWT dalam Surah Az-Zumar ayat 53:


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا


“Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya'.”


Semoga Allah SWT menerima setiap sujud penyesalan kita dan menjadikan hati kita suci kembali, seolah kita baru terlahir ke dunia. Wallahu a’lam. [ ]