*penulis
adalah Anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar
HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Saat ini kita berada
di pengujung fase kedua, bersiap melangkah ke sepuluh malam terakhir. Ibarat
sebuah maraton, kita sedang berada di "tikungan terakhir". Di titik
ini, biasanya semangat yang meledak-ledak di awal mulai meredup, fisik mulai
merasa jenuh, dan pikiran mulai terbagi dengan persiapan duniawi menjelang Idul
Fitri.
Namun, justru di
saat lelah menyerang inilah kualitas iman kita diuji melalui satu kata kunci: Istiqamah.
Hadiah
Bagi Jiwa yang Bertahan
Istiqamah
memang sering kali terasa berat karena ia mengharuskan kita melawan rasa bosan
dan hawa nafsu. Namun, bagi mereka yang memilih untuk tidak menyerah, Allah SWT
menjanjikan ketenangan batin yang tidak bisa ditukar dengan kemewahan apa pun.
Allah SWTSWT
berfirman dalam Surah Fussilat ayat 30:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ
اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا
وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka
(dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih
hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan
kepadamu’.”
Menjaga
Bara Semangat di Pengujung Ramadhan
Bagaimana cara kita
menjaga agar ibadah kita tidak kendor di sisa waktu yang singkat ini? Berikut
adalah sentuhan langkah yang bisa kita renungkan bersama:
- Merasakan Kehadiran
"Penonton" Langit. Saat mata
mulai mengantuk ketika tadarus atau tubuh terasa berat untuk bangun
sahur, ingatlah ayat di atas. Bayangkan para malaikat sedang berdiri di
samping kita, memberikan semangat dan mencatat setiap peluh perjuangan
kita. Kesulitan akan terasa ringan jika kita sadar sedang
"ditonton" dengan penuh cinta oleh penduduk langit.
- Kualitas Jauh Lebih
Berharga Daripada Angka. Saat tubuh terasa
letih untuk menambah tumpukan amal, cukupkanlah dengan menjaga ibadah yang
rutin Kita lakukan, namun dengan hati yang lebih hadir. Rasulullah SAW
mengingatkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah SWTadalah yang
dilakukan secara konsisten (dawam), meski sedikit. Dari ’Aisyah ra,
beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى
اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan
yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu
sedikit.” (HR. Muslim)
- Menyaring Gangguan
Dunia: Menjelang Idul Fitri, godaan
biasanya berupa kesibukan berlebih untuk urusan baju baru, kue, atau
persiapan mudik. Sejatinya, persiapan "satu hari" raya jangan
sampai merusak persiapan "abadi" kita di akhirat. Uruslah
keperluan dunia secukupnya, namun berikanlah hati kita sepenuhnya untuk
sisa Ramadhan ini.
- Saling Menopang
dalam Komunitas. Bagi kita yang
aktif di majelis ta’lim atau komunitas dakwah, inilah saatnya
menjadi "charger" bagi sesama. Saling menyapa, saling
mengingatkan, dan saling menguatkan adalah energi tambahan yang sangat
berharga di fase krusial ini.
Penutup:
Jangan Menyerah Sekarang
Lelahnya istiqamah
hari ini akan segera digantikan dengan manisnya iman saat Lailatul Qadr
tiba dan indahnya kemenangan saat fajar Idul Fitri menyingsing. Ingatlah
perintah Allah SWT kepada Nabi-Nya dalam Surah Hud ayat 112:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ
“Maka
tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar (istiqamah), sebagaimana
diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu.”
Semoga Allah SWT mengaruniakan
kita kekuatan untuk terus melangkah, konsisten dalam ketaatan, hingga napas
terakhir kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan terbaik. Wallahu a’lam. [
]

