Kultum Ramadhan Hari Ke-19: Istiqamah, Bertahan di Tikungan Terakhir Menuju Kemenangan


*penulis adalah Anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar


HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Saat ini kita berada di pengujung fase kedua, bersiap melangkah ke sepuluh malam terakhir. Ibarat sebuah maraton, kita sedang berada di "tikungan terakhir". Di titik ini, biasanya semangat yang meledak-ledak di awal mulai meredup, fisik mulai merasa jenuh, dan pikiran mulai terbagi dengan persiapan duniawi menjelang Idul Fitri.


Namun, justru di saat lelah menyerang inilah kualitas iman kita diuji melalui satu kata kunci: Istiqamah.


Hadiah Bagi Jiwa yang Bertahan


Istiqamah memang sering kali terasa berat karena ia mengharuskan kita melawan rasa bosan dan hawa nafsu. Namun, bagi mereka yang memilih untuk tidak menyerah, Allah SWT menjanjikan ketenangan batin yang tidak bisa ditukar dengan kemewahan apa pun.


Allah SWTSWT berfirman dalam Surah Fussilat ayat 30:


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ


“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’.”





Menjaga Bara Semangat di Pengujung Ramadhan


Bagaimana cara kita menjaga agar ibadah kita tidak kendor di sisa waktu yang singkat ini? Berikut adalah sentuhan langkah yang bisa kita renungkan bersama:


  • Merasakan Kehadiran "Penonton" Langit. Saat mata mulai mengantuk ketika tadarus atau tubuh terasa berat untuk bangun sahur, ingatlah ayat di atas. Bayangkan para malaikat sedang berdiri di samping kita, memberikan semangat dan mencatat setiap peluh perjuangan kita. Kesulitan akan terasa ringan jika kita sadar sedang "ditonton" dengan penuh cinta oleh penduduk langit.

  • Kualitas Jauh Lebih Berharga Daripada Angka. Saat tubuh terasa letih untuk menambah tumpukan amal, cukupkanlah dengan menjaga ibadah yang rutin Kita lakukan, namun dengan hati yang lebih hadir. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah SWTadalah yang dilakukan secara konsisten (dawam), meski sedikit. Dari ’Aisyah ra, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ


Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim)

  • Menyaring Gangguan Dunia: Menjelang Idul Fitri, godaan biasanya berupa kesibukan berlebih untuk urusan baju baru, kue, atau persiapan mudik. Sejatinya, persiapan "satu hari" raya jangan sampai merusak persiapan "abadi" kita di akhirat. Uruslah keperluan dunia secukupnya, namun berikanlah hati kita sepenuhnya untuk sisa Ramadhan ini.

  • Saling Menopang dalam Komunitas. Bagi kita yang aktif di majelis ta’lim atau komunitas dakwah, inilah saatnya menjadi "charger" bagi sesama. Saling menyapa, saling mengingatkan, dan saling menguatkan adalah energi tambahan yang sangat berharga di fase krusial ini.

Penutup: Jangan Menyerah Sekarang


Lelahnya istiqamah hari ini akan segera digantikan dengan manisnya iman saat Lailatul Qadr tiba dan indahnya kemenangan saat fajar Idul Fitri menyingsing. Ingatlah perintah Allah SWT kepada Nabi-Nya dalam Surah Hud ayat 112:


فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ


“Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar (istiqamah), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu.”


Semoga Allah SWT mengaruniakan kita kekuatan untuk terus melangkah, konsisten dalam ketaatan, hingga napas terakhir kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan terbaik. Wallahu a’lam. [ ]