Kultum Ramadhan Hari Ke-20: Menjaga Pandangan, Menjaga Jendela Hati Menuju Lailatul Qadr


*penulis adalah Anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar


HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Alhamdulillah, malam ini merupakan gerbang penutup fase kedua sekaligus jembatan menuju sepuluh malam terakhir—masa yang sangat kita nantikan. Namun, ada satu pertanyaan reflektif bagi kita semua, “...mampukah kita meraih cahaya Lailatul Qadr jika "jendela hati" kita masih gelap akibat pandangan-pandangan yang tidak terjaga?”


Hati manusia ibarat sebuah bejana bening. Setiap kali mata melihat hal yang dilarang, setetes noda hitam jatuh ke dalamnya. Jika noda itu terus bertambah, maka cahaya hidayah dan kelezatan ibadah akan sulit meresap. Menjaga pandangan sejatinya melampaui makna menundukkan kepala di jalan; ini adalah tentang menjaga kehormatan diri dan kesucian batin di hadapan Allah SWT.


Allah SWT memerintahkan dalam Surah An-Nur ayat 30:


قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ


“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka'.”


Mata, Panah Beracun atau Sumber Cahaya?


Dunia digital saat ini menawarkan godaan visual yang luar biasa di ujung jari kita. Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat dalam melalui sebuah hadits qudsi:


النَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُومٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ، مَنْ تَرَكَهَا مِنْ مَخَافَتِي أَبْدَلْتُهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ


“Pandangan mata adalah salah satu panah beracun dari panah-panah Iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman yang ia rasakan kemanisannya di dalam hatinya.” (HR. Al-Hakim & Thabrani)


Merasakan "manisnya iman" adalah impian setiap mukmin, dan kunci untuk membukanya ternyata ada pada kemampuan kita untuk mengalihkan pandangan dari hal yang tidak diridhai-Nya.


4 Langkah Praktis Menjaga "Iffah" (Kesucian Diri)


Agar kita memasuki sepuluh malam terakhir dengan hati yang jernih, mari kita praktikkan langkah-langkah berikut:


  • Mengaudit visual di dunia digital. Layar ponsel sering kali menjadi ujian terberat. Maka mulailah menyaring konten yang kita konsumsi. Unfollow akun-akun yang memicu syahwat atau penyakit hati lainnya. Jadikan media sosial sebagai wasilah (perantara) kebaikan, bukan pintu kemaksiatan.

  • Membangun budaya malu di rumah. Ayah dan Ibu adalah teladan utama. Jika anak melihat orang tuanya bijak dalam menggunakan teknologi dan menjaga pandangan, mereka akan meniru. Maka ciptakan suasana rumah yang "bersih" agar malaikat rahmat betah singgah di kediaman kita.

  • Mengalokasikan mata untuk Al-Qur'an. Alihkan rasa lapar mata pada kemaksiatan dengan memandang kepada mushaf. Maka menjelang fase terakhir Ramadhan ini, manfaatkan penglihatan kita untuk mengejar target tilawah. Mata yang sering menangis karena takut Allah SWT, tidak akan sudi digunakan untuk melihat hal-hal yang rendah.

  • Mengingat pertanggungjawaban kelak. Setiap kedipan mata kita tidak luput dari catatan-Nya. Kesadaran bahwa Allah Maha Melihat akan memberikan kita "rem" alami saat godaan visual muncul secara tiba-tiba.

Penutup: Membersihkan Bejana Hati


Mari kita bersihkan bejana hati kita malam ini. Mari kita masuki sepuluh malam terakhir dengan mata yang jernih, agar kita mampu merasakan kehadiran malaikat dan kemuliaan Lailatul Qadr.


Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Isra ayat 36:


إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا


“...Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”


Semoga Allah SWT mengampuni kekhilafan mata kita selama ini dan menjaga kehormatan diri kita hingga akhir hayat. Wallahu a’lam. [ ]