*penulis adalah Anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar
HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Di titik ini, hati kita seringkali bergetar hebat. Malam ke-27 yang seringkali dikaitkan dengan puncak pencarian Lailatul Qadr ini sejatinya adalah momen untuk bertanya pada diri sendiri; "Ke mana arah langkahku selama ini? Apakah aku sedang menuju taman-taman surga, atau justru menjauh ke arah yang dilarang-Nya?"
Kerinduan pada
surga tidak sebatas bayangan tentang kenikmatan fisik yang jauh di sana,
melainkan sebuah undangan bagi kita untuk mulai memantaskan diri dan
membangun kualitas pribadi yang selaras dengan nilai-nilai Sang Pencipta.
Begitu pun dengan
upaya menjauhi neraka. Tidak kita maknai sebagai suatu ketakutan yang
melumpuhkan, melainkan sebagai bentuk kesadaran diri untuk menjaga
integritas kita. Ini adalah cara kita menghargai kasih sayang-Nya dengan
memilih untuk tidak melangkah ke arah yang merusak diri atau mengundang
murka-Nya. Mari kita jadikan kesadaran ini sebagai kompas dalam setiap
keputusan yang kita ambil hari ini.
Allah SWT
berfirman dalam Surah Ali 'Imran ayat 185:
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ
فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Barangsiapa
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah
beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang
memperdayakan.”
Magnet
Kerinduan dan Rem Ketakutan
Rasulullah SAW
mengajarkan kita untuk menyeimbangkan antara harapan akan surga dan rasa takut
pada neraka. Beliau memberikan sebuah rahasia kecil namun dahsyat tentang doa:
مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الْجَنَّةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
قَالَتِ الْجَنَّةُ : اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ اسْتَجَارَ مِنَ النَّارِ
ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ النَّارُ : اللَّهُمَّ
أَجِرْهُ مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa
memohon surga kepada Allah sebanyak tiga kali, maka surga akan berkata: 'Ya
Allah, masukkanlah dia ke surga'. Dan barangsiapa memohon perlindungan dari
neraka sebanyak tiga kali, maka neraka akan berkata: 'Ya Allah, lindungilah dia
dari neraka'.” (HR. Tirmidzi & An-Nasa'i,
Shahih)
Hadits ini
menunjukkan betapa Allah SWT ingin kita terus menjalin komunikasi dengan-Nya
mengenai "rumah masa depan" kita.
Menumbuhkan
"Napas Surga" dalam Keseharian
Merindu surga
semestinya mewujud dalam langkah nyata yang menyejukkan hati sesama. Inilah
ikhtiar hati yang bisa kita rajut bersama untuk menyongsong kepulangan yang
indah:
- Langkah pertama yang bisa kita
upayakan adalah membangun ruang teduh yang menghadirkan aroma surga.
Kita mulai dengan nada bicara yang rendah dan penuh kasih, agar setiap
anggota keluarga merasakan kedamaian bahkan sebelum mereka melangkah ke
surga yang sesungguhnya.
- Berikutnya adalah membangun
pertahanan jiwa melalui keagungan budi pekerti. Setiap kali amarah
hendak meledak atau lisan tergoda untuk berucap sia-sia, ingatlah bahwa
itu adalah 'percikan' yang mampu mengaburkan kebaikan kita. Membangun
pertahanan jiwa melalui keagungan budi pekerti bukan hanya tentang
kesantunan, melainkan tentang ikhtiar kita untuk tetap berada dalam
perlindungan-Nya.
- Kemudian selanjutnya melunakkan hati dan menghapus luka melalui sedekah. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa perlindungan dari neraka bisa hadir bahkan melalui sebutir kurma yang disedekahkan dengan tulus. Di sisa malam yang kian menepi ini, marilah kita menjadikan kedermawanan sebagai penghapus jejak khilaf, karena setiap pemberian yang tulus adalah wujud nyata dari rindu kita pada surga.
- Terakhir adalah memelihara doa
dalam setiap sujud. Jangan pernah merasa diri sudah aman. Teruslah
memohon perlindungan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian.
Penutup:
Harapan di Malam-malam Ganjil
Malam ke-27 ini
adalah kesempatan emas untuk memperbarui kontrak keimanan kita. Di saat manifestasi
rahmat Ilahi di penghujung malam ini turun, marilah kita bersimpuh dengan
penuh harap. Maka menangislah karena rindu pada pertemuan dengan-Nya, dan
memohonlah dengan sungguh-sungguh agar nama kita dihapus dari daftar penghuni
neraka.
Semoga Allah SWT
memantaskan kita untuk menjadi pewaris Firdaus-Nya. Mari kita akhiri perjalanan
Ramadhan ini dengan ketulusan yang murni, agar kelak kita semua dikumpulkan
kembali dalam keabadian yang indah. Wallahu a’lam bish-shawab.[ ]

