HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Saat takbir mulai sayup-sayup terdengar menggetarkan langit, ada sebentuk rasa yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ada rasa karena telah sampai di garis finis, namun ada pula sesak di dada karena harus melepas kekasih jiwa yang telah menyucikan hari-hari kita selama sebulan penuh.
Ramadhan adalah
saksi bisu atas setiap butir air mata penyesalan, setiap bait doa di keheningan
sahur, dan setiap sujud yang kita panjangkan. Kini, sang tamu agung itu bersiap
melangkah pergi, membawa seluruh catatan amal kita ke hadapan Sang Khalik.
Allah SWT
berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
ÙˆَÙ„ِتُÙƒْÙ…ِÙ„ُوا الْعِدَّØ©َ ÙˆَÙ„ِتُÙƒَبِّرُوا اللَّÙ‡َ
عَÙ„َÙ‰ٰ Ù…َا Ù‡َدَاكُÙ…ْ ÙˆَÙ„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ تَØ´ْÙƒُرُونَ
“...hendaklah
kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas
petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
Tangis
Para Kekasih Allah
Dahulu, para
sahabat Nabi SAW menghabiskan enam bulan setelah Ramadhan hanya untuk berdoa
agar amalan mereka diterima. Mereka menangis bukan karena takut kehilangan hari
raya, melainkan khawatir jika Ramadhan ini berlalu tanpa membawa ampunan bagi
mereka.
Seorang penyair
pernah bersenandung: "Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak
menetes saat berpisah dengan Ramadhan, sedang pintu-pintu surga mulai tertutup
kembali dan belenggu setan mulai dilepaskan?"
Ikhtiar
Hati di Ambang Perpisahan
Di sisa napas
terakhir bulan suci ini, saat bayang-bayang Ramadhan mulai memudar di
cakrawala, mari kita lakukan tiga langkah perenungan sunyi sebagai kado
perpisahan yang paling tulus:
- Menitipkan
"Surat Cinta" dalam Sujud Terakhir. Jangan
biarkan malam ini berlalu hanya dengan hiruk-pikuk persiapan lebaran.
Masuklah ke dalam keheningan, hamparkan sajadah, dan anggaplah sujud
terakhir ini sebagai "surat" yang akan dibawa pergi oleh
Ramadhan ke hadapan Arsy. Bisikkan dengan sisa-sisa tenaga yang
ada: "Ya Allah, terimalah aku yang penuh celah ini."
Inilah saat kita benar-benar menitipkan penjagaan jiwa pada setiap sujud
yang panjang, memohon agar Allah tidak menghapus manisnya iman saat fajar
Syawal menyapa.
- Mengunci Pintu
Kelalaian dengan "Kunci Kesantunan". Jika
selama sebulan ini kita telah berhasil menjinakkan amarah dan menjaga
lisan, jangan biarkan gemboknya terbuka begitu saja saat takbir
berkumandang. Bertekadlah bahwa lisan yang telah disucikan dengan
ayat-ayat suci ini tidak akan lagi digunakan untuk melukai, namun menjadi
penawar luka bagi sesama di bulan-bulan mendatang.
- Menanam Benih
"Rindu": Jadikan Akhir Ramadhan Sebagai Awal Penaklukan Diri.
Ramadhan akan segera usai, tapi ingat, ini bukan tanda "beban
tugas" telah selesai. Jangan biarkan diri kita merasa lega seolah
baru saja lepas dari beban. Sebaliknya, bangunlah kegelisahan yang
positif—kegelisahan seorang pejuang yang khawatir kehilangan momentum
terbaiknya. Di garis finis ini, saatnya kita melakukan reset batin. Jadikan
rasa rindu pada bulan suci ini sebagai "kompas" permanen dalam
hidup kita. Dunia setelah ini akan sangat bising dan penuh distraksi.
Jangan biarkan diri Anda tersesat lagi hanya karena Ramadhan telah pamit.
Pertahankan ritmenya, jaga apinya, dan tetaplah melangkah sebagai pemenang
yang istikamah!
Penutup:
Munajat di Penghujung Jalan Cahaya
Sahabat sekalian,
sesaat lagi mentari akan tenggelam dan syariat puasa akan berganti menjadi
pekik takbir yang menggetarkan sanubari. Namun, ingatlah bahwa meski
kekasih jiwa ini pergi, Sang Pemilik Ramadhan tetap setia menanti munajat kita
di setiap sepertiga malam yang sunyi.
Mari kita lepas
keberangkatan bulan penuh cahaya ini dengan jiwa yang berserah, seraya memohon
agar segala ruku', sujud, dan sedekah kita menjadi pembela yang fasih di hari
penghisaban kelak. Selamat jalan, bulan yang mulia. Semoga kita semua
senantiasa berada dalam kemuliaan dan naungan ridha Ilahi sepanjang
hayat. Wallahu a’lam bish-shawab. [ ]

