Kultum Ramadhan Hari Ke-30: Perpisahan yang Mengharukan, Menitipkan Rindu di Gerbang Keberangkatan

*penulis adalah Anggota Dewan Murobi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar

 

HIDAYATULLAHJABAR.COM - - Saat takbir mulai sayup-sayup terdengar menggetarkan langit, ada sebentuk rasa yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ada rasa  karena telah sampai di garis finis, namun ada pula sesak di dada karena harus melepas kekasih jiwa yang telah menyucikan hari-hari kita selama sebulan penuh.


Ramadhan adalah saksi bisu atas setiap butir air mata penyesalan, setiap bait doa di keheningan sahur, dan setiap sujud yang kita panjangkan. Kini, sang tamu agung itu bersiap melangkah pergi, membawa seluruh catatan amal kita ke hadapan Sang Khalik.


Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:


ÙˆَÙ„ِتُÙƒْÙ…ِÙ„ُوا الْعِدَّØ©َ ÙˆَÙ„ِتُÙƒَبِّرُوا اللَّÙ‡َ عَÙ„َÙ‰ٰ Ù…َا Ù‡َدَاكُÙ…ْ ÙˆَÙ„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ تَØ´ْÙƒُرُونَ


“...hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”


Tangis Para Kekasih Allah


Dahulu, para sahabat Nabi SAW menghabiskan enam bulan setelah Ramadhan hanya untuk berdoa agar amalan mereka diterima. Mereka menangis bukan karena takut kehilangan hari raya, melainkan khawatir jika Ramadhan ini berlalu tanpa membawa ampunan bagi mereka.


Seorang penyair pernah bersenandung: "Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak menetes saat berpisah dengan Ramadhan, sedang pintu-pintu surga mulai tertutup kembali dan belenggu setan mulai dilepaskan?"


Ikhtiar Hati di Ambang Perpisahan


Di sisa napas terakhir bulan suci ini, saat bayang-bayang Ramadhan mulai memudar di cakrawala, mari kita lakukan tiga langkah perenungan sunyi sebagai kado perpisahan yang paling tulus:


  • Menitipkan "Surat Cinta" dalam Sujud Terakhir. Jangan biarkan malam ini berlalu hanya dengan hiruk-pikuk persiapan lebaran. Masuklah ke dalam keheningan, hamparkan sajadah, dan anggaplah sujud terakhir ini sebagai "surat" yang akan dibawa pergi oleh Ramadhan ke hadapan Arsy. Bisikkan dengan sisa-sisa tenaga yang ada: "Ya Allah, terimalah aku yang penuh celah ini." Inilah saat kita benar-benar menitipkan penjagaan jiwa pada setiap sujud yang panjang, memohon agar Allah tidak menghapus manisnya iman saat fajar Syawal menyapa.

  • Mengunci Pintu Kelalaian dengan "Kunci Kesantunan". Jika selama sebulan ini kita telah berhasil menjinakkan amarah dan menjaga lisan, jangan biarkan gemboknya terbuka begitu saja saat takbir berkumandang. Bertekadlah bahwa lisan yang telah disucikan dengan ayat-ayat suci ini tidak akan lagi digunakan untuk melukai, namun menjadi penawar luka bagi sesama di bulan-bulan mendatang.

  • Menanam Benih "Rindu": Jadikan Akhir Ramadhan Sebagai Awal Penaklukan Diri. Ramadhan akan segera usai, tapi ingat, ini bukan tanda "beban tugas" telah selesai. Jangan biarkan diri kita merasa lega seolah baru saja lepas dari beban. Sebaliknya, bangunlah kegelisahan yang positif—kegelisahan seorang pejuang yang khawatir kehilangan momentum terbaiknya. Di garis finis ini, saatnya kita melakukan reset batin. Jadikan rasa rindu pada bulan suci ini sebagai "kompas" permanen dalam hidup kita. Dunia setelah ini akan sangat bising dan penuh distraksi. Jangan biarkan diri Anda tersesat lagi hanya karena Ramadhan telah pamit. Pertahankan ritmenya, jaga apinya, dan tetaplah melangkah sebagai pemenang yang istikamah!

Penutup: Munajat di Penghujung Jalan Cahaya


Sahabat sekalian, sesaat lagi mentari akan tenggelam dan syariat puasa akan berganti menjadi pekik takbir yang menggetarkan sanubari. Namun, ingatlah bahwa meski kekasih jiwa ini pergi, Sang Pemilik Ramadhan tetap setia menanti munajat kita di setiap sepertiga malam yang sunyi.


Mari kita lepas keberangkatan bulan penuh cahaya ini dengan jiwa yang berserah, seraya memohon agar segala ruku', sujud, dan sedekah kita menjadi pembela yang fasih di hari penghisaban kelak. Selamat jalan, bulan yang mulia. Semoga kita semua senantiasa berada dalam kemuliaan dan naungan ridha Ilahi sepanjang hayat. Wallahu a’lam bish-shawab. [ ]