*penulis adalah Ketua DPD Hidayatullah Kab.Bandung
Khutbah Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ
تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ
وَالْبَرَكَاتُ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ، أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ
فَإِنَّهَا خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ
الْمَعَادِ
Segala puji bagi Allah, yang dengan
nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Dengan karunia-Nya, segala
keberkahan dan kebaikan diturunkan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada
junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga, sahabat, dan seluruh
pengikutnya hingga akhir zaman.
Selanjutnya, saya berwasiat kepada
diri sendiri dan kepada hadirin sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada
Allah, karena takwa adalah bekal terbaik untuk hari akhir.
Hadirin sidang Jum'at
rahimakumullah
Dalam kehidupan sehari-hari, kita
merasakan nikmat yang tak terhingga jumlahnya.
Allah berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا
تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Dan jika kamu menghitung
nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. An-Nahl: 18)
Nikmat yang paling utama bukanlah
harta, bukan pula jabatan, melainkan nikmat iman, nikmat sehat, nikmat berada
dalam hidayah Allah, dan nikmat kesempatan untuk beribadah serta meningkatkan
takwa sebagai bekal kelak.
Oleh karena itu, kita diperintahkan
untuk bersyukur atas segala nikmat. Allah
berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا
لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku
pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu
ingkar." (QS. Al-Baqarah: 152)
Jamaah jumat rohimakumulloh
Imam Al-Ghazali rahimahullah
menjelaskan bahwa syukur harus diwujudkan dengan tiga hal:
1. Syukur dengan Hati
Yakni, mengakui dalam hati bahwa
segala nikmat berasal dari Allah. Allah berfirman:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
"Dan segala nikmat yang ada
padamu (berasal) dari Allah."
(QS. An-Nahl: 53)
Ketika kita merasakan sehat, bisa
membina rumah tangga, memiliki anak, merasakan kebahagiaan dan mendapatkan
kesuksesan dalam usaha. itu semua bukan karena kepintaran atau kekuatan kita,
melainkan karena rahmat Allah yang senantiasa melimpah kepada kita.
Demikian pula hidayah yg kita
dapatkan semua dari Allah SWT yg membimbing kita dijalan-Nya. Oleh karena itu
Allah mengingatkan nikmat-nikmat tersebut kepada nabi Muhammad saw.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala
berfirman:
اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰ وٰى
"Bukankah Dia mendapatimu
sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu)." (QS. Ad-Duha: 6)
Rosululloh lahir dalam keadaan
yatim tapi Allah titipkan kepada orang-orang yang mengasuh, melindungi dan
mencintainya, mulai oleh ibunya, kakeknya dan pamannya
وَوَجَدَكَ ضَآ لًّا فَهَدٰى
"Dan Dia mendapatimu sebagai
seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (QS. Ad-Duha: 7)
Sebelum beliau menjadi rosul,
beliau bingung melihat kebodohan orang-orang Quraisy yang menyembah berhala. Beliau
juga bingung harus berbuat apa karena belum menemukan petunjuk yang benar.
Sehingga akhirnya Wahyu pertama turun dan beliau pun mendapatkan petunjuk yang
benar dan sekaligus menjadi rosul untuk menyampaikan petunjuk itu ke seluruh
umat
وَوَجَدَكَ عَآئِلًا فَاَ غْنٰى
"Dan Dia mendapatimu sebagai
seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan." (QS. Ad-Duha: 8)
Dulu beliau adalah buruh pengembala
kambing dan pedagang dari barang orang lain. Kemudian beliau menikah dengan
istri yg mempunyai kecukupan dan selalu berbakti.
Demikianlah Allah mengingatkan
kepada Rosul-Nya nikmat-nikmat-Nya yang berupa perlindungan, petunjuk dan
kecukupan bahwa semua itu dari Allah yang harus disyukuri sepenuh hati.
Demikian pula kita yang setiap hari
menerima nikmat-nikmat-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ
مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barangsiapa di antara kalian yang
memasuki waktu pagi dalam keadaan aman di rumahnya, sehat badannya, dan
memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi
miliknya.” (HR. Tirmidzi)
Artinya, kesehatan, keamanan dan
rezeki yang sehari-hari kita rasakan itu semua kenikmatan dunia dari Allah yang
patut kita syukuri sepenuh hati.
2. Syukur dengan Lisan
Mengucapkan pujian kepada Allah
dengan kalimat "Alhamdulillah" sebagai ungkapan terima kasih kita
kepada Allah SWT.
Allah berfirman:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu,
maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (mensyukurinya)." (QS. Adh-Dhuha: 11)
Jangan ragu untuk mengucapkan
"Alhamdulillah" baik dalam nikmat kecil maupun besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ
“Kalimat Alhamdulillah akan
memenuhi timbangan amal pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Setiap kali kita mengucapkan
"Alhamdulillah", seolah-olah kita menambah berat timbangan kebaikan
kita sendiri. Dengan lisan kita, kita bisa melipatgandakan berkah.
Misalnya, saat melihat anak sehat,
ucapkan "Alhamdulillah"; Melihat
istri sehat, "Alhamdulillah"; Mendapat
rezeki, "Alhamdulillah". Itulah
syukur dengan lisan yang menghidupkan iman.
3. Syukur dengan Amal
Yakni, menggunakan nikmat untuk
taat kepada Allah, bukan untuk bermaksiat. Allah berfirman dalam QS Saba': 13
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ
مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Bekerjalah hai keluarga Daud
untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang
berterima kasih."
Wujud syukur selain hati dan ucapan
harus ada buktinya dalam perbuatan.
Contohnya:
- Menggunakan badan untuk
beribadah.
- Menggunakan harta untuk
bersedekah.
- Menggunakan waktu untuk amal
shaleh.
- Menggunakan ilmu untuk
membimbing.
Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik
dalam hal ini. Dalam sebuah riwayat, Nabi ﷺ shalat malam hingga bengkak
kedua kakinya. Sahabat bertanya:
“Ya Rasulullah, mengapa engkau
melakukan ini padahal dosa-dosamu telah diampuni?”
Rasul menjawab:
أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا
شَكُورًا
“Tidakkah aku ingin menjadi hamba
yang bersyukur?”
(HR. Bukhari – Muslim)
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
SWT,
Marilah kita senantiasa
meningkatkan ibadah kita sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang telah
Allah berikan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
—
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا
طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ
كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Hadirin kaum muslimin
rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan
kita kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya
dan selalu bersyukur kepada-Nya
Syukur harus dilakukan secara utuh,
tidak sebagian-sebagian:
- Dengan hati, mengakui bahwa
nikmat berasal dari Allah.
- Dengan lisan, mengucapkan
"Alhamdulillah".
- Dengan amal, menggunakan nikmat
untuk taat.
Jika kita mampu melaksanakan
ketiganya, insya Allah akan tumbuh nikmat yang baru, sebagaimana firman Allah
dalam Surah Ibrahim: 7
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ
وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
Oleh karena itu mari kita berusaha
menjadi hamba yang selalu bersyukur kepada-Nya dengan mengingat nikmat-nikmat
yang tak terhingga serta memohon kepada Allah agar kita diberi kemampuan untuk
menjadi Abdan Syakuroo.
اللهم اجعلنا من الشاكرين لأنعمك
الذاكرين لفضلك، القائمين بحقك
اللهم بارك لنا في أهلنا وذرّيتنا
واجعلهم قرة أعين لنا في الدنيا والآخرة
اللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
اللهم كما أنعمت علينا بنعمة الأهل والولد
فأدم علينا نعمتك ظاهرةً وباطنةً
اللهم اختم لنا بالحسنى، واجعلنا من عبادك
الصالحين
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى
يِوْمِ الدِّيْنِ
وَآَخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ
رَبِّ العَالَمِيْن

