Catatan:
- Almarhum adalah Anggota DMW Hidayatullah Jawa Barat, wafat pada Jumat, 15 Mei 2026
- Naskah Khutbah ini ditulis dan dikirim pada Selasa, 12 Mei 2026
KHUTBAH PERTAMA:
اللهُ أَكْبَرُ
(9x)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا،
وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ،
صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ
وَحْدَهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِيْنَ
لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ
أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ
الصَّالِحَاتُ، اَلَّذِي هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ
هَدَانَا اللهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي بَلَّغَ
الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَلَا
تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ
الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Ma’asyiral Muslimin Wal
Muslimat Rahimakumullah,
Hari ini, gema takbir
membahana ke seluruh penjuru bumi, mengingatkan kita pada sebuah peristiwa
besar yang menggetarkan sejarah. Sebuah drama kemanusiaan agung antara seorang
ayah, Nabi Ibrahim as, dan putranya yang shalih, Nabi Ismail as. Di tengah krisis
moral tahun 2026 ini—di mana kemajuan teknologi sering kali menciptakan jarak
emosional di bawah satu atap rumah—kita sangat perlu merefleksikan kembali
peran ayah sebagai pendidik utama (Ar-Rijal Qawwamuna ‘alan Nisa).
Nabi Ibrahim as adalah
teladan sejati dalam membangun karakter anak. Ada tiga pilar utama yang bisa
kita teladani:
1. Membangun Dialog dan
Menghargai Fitrah Anak
Nabi Ibrahim as
mengajarkan kita bahwa otoritas ayah tidak harus bersifat otoriter. Perhatikan
saat beliau menerima wahyu untuk menyembelih anaknya, beliau tidak langsung
memaksakan perintah tersebut, melainkan mengajak anaknya berdialog sebagaimana
terekam dalam Al-Qur'an:
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي
أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
“Wahai anakku!
Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah
apa pendapatmu!” (QS. Ash-Saffat: 102).
Inilah pelajaran bagi
kita para ayah masa kini. Berapa banyak dari kita yang mau mendengar pendapat
anak? Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, menekankan konsep
Sistem Among: "Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa,
tut wuri handayani." Di tengah-tengah (ing madya), seorang ayah harus
mampu membangun kemauan dan dialog.
Seorang ayah harus
menjadi sahabat diskusi agar ketaatan anak lahir dari bashirah
(pemahaman mendalam), bukan sekadar rasa takut. Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ
مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا
“Bukan termasuk golongan
kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.”
(HR. Tirmidzi).
2. Mendahulukan Adab dan
Karakter Spiritual
Nabi Ibrahim berhasil
menanamkan adab yang luar biasa pada Ismail. Ketika sang ayah bertanya
pendapatnya, Ismail menjawab dengan sangat santun:
يَا
أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku!
Kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Saffat:
102).
Panggilan "Ya
Abati" adalah panggilan penuh kemuliaan dan cinta. Mohammad Natsir
pernah menegaskan: "Pendidikan itu bukanlah semata-mata mencerdaskan
otak, melainkan juga menghaluskan budi pekerti dan memperkuat tauhid."
Seorang ayah yang hanya mengejar nilai rapor anak tapi mengabaikan shalat dan
akhlaknya, sejatinya sedang membangun istana di atas pasir. Imam Al-Ghazali
dalam Ihya Ulumuddin berpesan:
الصبي
أمانة عند والديه، وقلبه الطاهر جوهرة ساذجة
“Anak adalah amanah bagi
kedua orang tuanya, dan hatinya yang suci adalah permata yang sangat berharga.”
Adab harus menjadi mahkota di atas ilmu. Jangan biarkan anak kita pintar
teknologi namun buta terhadap hak orang tua.
3. Mengajarkan Kesabaran
Melalui Keteladanan (Uswah)
Nabi Ismail bisa menjadi
sabar karena ia melihat ayahnya adalah pribadi yang paling sabar dan patuh
kepada Allah. Ayah adalah kurikulum hidup bagi anaknya. Buya Hamka
berpesan: "Anak-anak itu bagaikan kertas putih yang akan ditulis oleh
orang tuanya. Tulislah dengan tinta kesabaran dan amal shaleh."
Di era serba instan 2026
ini, di mana anak-anak ingin semuanya cepat tanpa proses, ayah harus
mengajarkan hakikat pengorbanan. Sebagaimana perkataan ulama:
بِالصَّبْرِ
وَالْيَقِيْنِ تُنَالُ الْإِمَامَةُ فِي الدِّيْنِ
“Dengan kesabaran dan
keyakinan, kepemimpinan dalam agama akan diraih.”
Ayah harus hadir sebagai
figur yang tangguh. Jika ayah mudah mengeluh, anak akan rapuh. Jika ayah teguh,
anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah goyah oleh badai zaman.
Jamaah yang Dimuliakan
Allah,
Krisis moral tidak akan
selesai hanya dengan menambah jam sekolah atau mengirim anak ke pesantren
terbaik. Perubahan bermula dari rumah, melalui "Madrasah
Ibrahimiyah". Mari kita "sembelih" ego, kesombongan, dan
kesibukan yang membuat kita menjadi orang asing bagi anak-anak kita sendiri.
Jangan sampai kita rajin berkurban sapi atau kambing setiap tahun, namun tanpa
sadar kita "menyembelih" masa depan dan iman anak-anak kita karena
kelalaian kita dalam mendidik.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA:
اللهُ أَكْبَرُ
(7x) اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَلِلّٰهِ
الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ
فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.
Jamaah Idul Adha yang
Dimuliakan Allah,
Sebagai penutup, marilah
kita jadikan momentum kurban ini untuk mempererat kembali ikatan hati (rabithah
al-qalb) di dalam keluarga kita. Jadilah ayah yang dirindukan kehadirannya,
bukan ayah yang hanya ada raganya namun jauh jiwanya. Semoga Allah SWT
menganugerahkan kita keturunan yang qurrata a'yun.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا،
وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ، غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلَا مُضِلِّيْنَ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.
اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا ضَحَايَانَا وَاجْعَلْهَا
خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا
اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

