KHUTBAH PERTAMA:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ
لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ،
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ
اللّٰهُ تَعَالَى: لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ
التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
Alhamdulillah, kita senantiasa
bersyukur atas nikmat yang Allah سبحانه وتعالى karuniakan kepada kita. Begitu
banyak nikmat yang setiap hari kita rasakan. Maka, bentuk syukur yang hakiki
adalah dengan mewujudkannya melalui ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى serta
melaksanakan segala perintah-Nya.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Di Antara wujud syukur kita
terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى adalah berqurban.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ
لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan
kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan
berqurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar: 1–3)
Hakikat qurban bukan terletak pada
darah dan daging hewan, tetapi pada ketakwaan hati seorang hamba.
Allah Ta‘ālā berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا
دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging dan darah hewan qurban itu
tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan
kalian.” (QS.
Al-Hajj: 37)
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullāh,
Ibadah qurban bukan sekadar
menyembelih hewan, dan bukan pula hanya rutinitas tahunan setiap datangnya Idul
Adha. Akan tetapi, qurban adalah syariat agung yang mengandung pelajaran dan
ujian besar tentang Keimanan, kesabaran, ketaatan, ketakwaan, serta kepedulian
terhadap sesama.
Marilah kita mengambil pelajaran
dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihimassalām, tentang
bagaimana mereka membuktikan keimanan, kesabaran, dan ketaatan dalam menerima
ujian serta menjalankan perintah Allah سبحانه وتعالى, khususnya dalam peristiwa
agung perintah qurban yang diabadikan dalam Qur'an surat Ash-Shaffat ayat
102–107)
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّ هَٰذَا
لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Ketika anak itu sampai pada usia
sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku,
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah
bagaimana pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang
diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar.’ Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim
membaringkan anaknya di atas pelipisnya, Kami pun memanggilnya: ‘Wahai Ibrahim!
Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini
benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami menebusnya dengan seekor
sembelihan yang besar.”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Dalam kisah Nabi Ibrahim dan
putranya, Nabi Ismail ‘alaihimassalām ini, terdapat banyak pelajaran berharga
yang dapat kita ambil.
Di antaranya adalah:
1. Qurban adalah bukti Kesabaran
dalam menjalankan perintah Allah سبحانه وتعالى.
Allah سبحانه وتعالى mengabadikan
jawaban Nabi Ismail ‘alaihis salām ketika ayahnya, Nabi Ibrahim ‘alaihis salām,
menyampaikan perintah Allah untuk menyembelihnya.
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"‘Wahai ayahku, lakukanlah apa
yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar.’"
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Jawaban tersebut menunjukkan
kesabaran yang luar biasa dalam menjalankan perintah Allah سبحانه وتعالى.
Maka orang yang berqurban sejatinya
sedang melatih dirinya untuk sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam
mengorbankan sesuatu yang dicintainya demi meraih ridha Allah سبحانه وتعالى.
2. Qurban adalah bukti ketaatan
total kepada Allah سبحانه وتعالى.
Nabi Ibrahim tidak mendahulukan
perasaan, logika, maupun hawa nafsu di atas perintah Allah. Sebagaimana
dilanjutkan kisahnya dalam firman Allah سبحانه وتعالى berikutnya.
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ
نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Maka ketika keduanya telah
berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, Kami pun
memanggilnya: Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.
Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik.” (QS.
Ash-Shaffāt: 103-105)
Inilah bentuk ketaatan yang
sempurna dari Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihimassalām. Keduanya
telah berserah diri kepada Allah, maka Allah pun memberikan jalan keluar dan
mengganti Ismail dengan sembelihan kambing yang besar.
3. Qurban adalah ujian nyata dan
bukti keimanan kepada Allah سبحانه وتعالى.
Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi
Ismail ‘alaihimassalām, berhasil lulus dalam ujian keimanan yang sangat berat.
Sebagaimana dalam ayat selanjutnya:
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu
ujian yang nyata. Dan Kami menebusnya dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 106–107)
Qurban menjadi ujian sekaligus
bukti keimanan dan kesungguhan seorang hamba dalam mengorbankan apa yang
dicintainya demi meraih ridha Allah سبحانه وتعالى.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullāh,
Di balik ibadah qurban juga
terdapat pelajaran tentang kepedulian sosial.
Daging qurban dibagikan kepada
fakir miskin, tetangga, dan kaum muslimin lainnya agar mereka turut merasakan
kebahagiaan di hari raya.
Allah Ta‘ālā berfirman:
فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ
الْفَقِيرَ
“Makanlah sebagian darinya dan
berikanlah makan kepada orang fakir yang sengsara.” (QS. Al-Hajj: 28)
Maka qurban mengajarkan bahwa
seorang mukmin tidak hidup sendiri, tetapi harus peduli terhadap kebutuhan
saudaranya.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Mari kita jadikan momentum Idul
Adha dan qurban sebagai sarana memperbaiki iman, memperkuat kesabaran,
meningkatkan ketaatan dan ketakwaan serta memperbesar kepedulian kepada sesama.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَحْدَهُ، وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ عَلَىٰ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوا
أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ تَقْوَى اللّٰهِ.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan
Allah,
Sesungguhnya di antara ibadah yang
paling dicintai Allah سبحانه وتعالى pada hari Raya Idul Adha adalah ibadah
qurban.
Ibadah ini merupakan amalan yang
agung, syiar Islam, serta bentuk pendekatan diri kepada Allah سبحانه وتعالى.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ
عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ
“Tidak ada amalan yang dilakukan
anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah daripada menumpahkan darah
hewan qurban.”
(HR. Tirmidzi)
Maka jangan sampai kita menjadi
orang yang mampu tetapi enggan berqurban.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ
فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Barangsiapa memiliki kelapangan
rezeki tetapi tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah)
Jadikanlah qurban sebagai bukti
cinta kepada Allah, bukti syukur atas nikmat-Nya, dan bukti kepedulian kepada
sesama kaum muslimin.
Semoga Allah menerima amal ibadah
kita, menerima qurban kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang
bertakwa.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ
الْأَعْمَالِ، وَتَقَبَّلْ قُرْبَانَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ،
وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنَّا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً،
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

