Khutbah Jumat: Ibadah Qurban adalah Ujian Keimanan, Kesabaran dan Ketaatan

 

*penulis adalah Ketua DPD Hidayatullah Kab.Bandung

KHUTBAH PERTAMA:

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

 

Alhamdulillah, kita senantiasa bersyukur atas nikmat yang Allah سبحانه وتعالى karuniakan kepada kita. Begitu banyak nikmat yang setiap hari kita rasakan. Maka, bentuk syukur yang hakiki adalah dengan mewujudkannya melalui ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى serta melaksanakan segala perintah-Nya.

 

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Di Antara wujud syukur kita terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى adalah berqurban.

 

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ۝ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ۝ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ۝

 

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar: 1–3)

 

Hakikat qurban bukan terletak pada darah dan daging hewan, tetapi pada ketakwaan hati seorang hamba.

 

Allah Ta‘ālā berfirman:

 

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

 

“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

 

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullāh,

Ibadah qurban bukan sekadar menyembelih hewan, dan bukan pula hanya rutinitas tahunan setiap datangnya Idul Adha. Akan tetapi, qurban adalah syariat agung yang mengandung pelajaran dan ujian besar tentang Keimanan, kesabaran, ketaatan, ketakwaan, serta kepedulian terhadap sesama.

 

Marilah kita mengambil pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihimassalām, tentang bagaimana mereka membuktikan keimanan, kesabaran, dan ketaatan dalam menerima ujian serta menjalankan perintah Allah سبحانه وتعالى, khususnya dalam peristiwa agung perintah qurban yang diabadikan dalam Qur'an surat Ash-Shaffat ayat 102–107)

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ۝ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ۝ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ۝ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ۝ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ۝ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ۝

 

“Ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, Kami pun memanggilnya: ‘Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami menebusnya dengan seekor sembelihan yang besar.”

 

Jamaah yang dirahmati Allah,

Dalam kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihimassalām ini, terdapat banyak pelajaran berharga yang dapat kita ambil.

 

Di antaranya adalah:

 

1. Qurban adalah bukti Kesabaran dalam menjalankan perintah Allah سبحانه وتعالى.

 

Allah سبحانه وتعالى mengabadikan jawaban Nabi Ismail ‘alaihis salām ketika ayahnya, Nabi Ibrahim ‘alaihis salām, menyampaikan perintah Allah untuk menyembelihnya.

 

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

 

"‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’" (QS. Ash-Shaffat: 102)

 

Jawaban tersebut menunjukkan kesabaran yang luar biasa dalam menjalankan perintah Allah سبحانه وتعالى.

 

Maka orang yang berqurban sejatinya sedang melatih dirinya untuk sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam mengorbankan sesuatu yang dicintainya demi meraih ridha Allah سبحانه وتعالى.

 

2. Qurban adalah bukti ketaatan total kepada Allah سبحانه وتعالى.

 

Nabi Ibrahim tidak mendahulukan perasaan, logika, maupun hawa nafsu di atas perintah Allah. Sebagaimana dilanjutkan kisahnya dalam firman Allah سبحانه وتعالى berikutnya.

 

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ۝ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ۝ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

 

“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, Kami pun memanggilnya: Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ash-Shaffāt: 103-105)

 

Inilah bentuk ketaatan yang sempurna dari Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihimassalām. Keduanya telah berserah diri kepada Allah, maka Allah pun memberikan jalan keluar dan mengganti Ismail dengan sembelihan kambing yang besar.

 

3. Qurban adalah ujian nyata dan bukti keimanan kepada Allah سبحانه وتعالى.

 

Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihimassalām, berhasil lulus dalam ujian keimanan yang sangat berat.

Sebagaimana dalam ayat selanjutnya:

 

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ۝ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

 

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami menebusnya dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 106–107)

 

Qurban menjadi ujian sekaligus bukti keimanan dan kesungguhan seorang hamba dalam mengorbankan apa yang dicintainya demi meraih ridha Allah سبحانه وتعالى.

 

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullāh,

Di balik ibadah qurban juga terdapat pelajaran tentang kepedulian sosial.

 

Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kaum muslimin lainnya agar mereka turut merasakan kebahagiaan di hari raya.

 

Allah Ta‘ālā berfirman:

 

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

 

“Makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan kepada orang fakir yang sengsara.” (QS. Al-Hajj: 28)

 

Maka qurban mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak hidup sendiri, tetapi harus peduli terhadap kebutuhan saudaranya.

 

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Mari kita jadikan momentum Idul Adha dan qurban sebagai sarana memperbaiki iman, memperkuat kesabaran, meningkatkan ketaatan dan ketakwaan serta memperbesar kepedulian kepada sesama.

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA:

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَحْدَهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ تَقْوَى اللّٰهِ.

 

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Sesungguhnya di antara ibadah yang paling dicintai Allah سبحانه وتعالى pada hari Raya Idul Adha adalah ibadah qurban.

 

Ibadah ini merupakan amalan yang agung, syiar Islam, serta bentuk pendekatan diri kepada Allah سبحانه وتعالى.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ

 

“Tidak ada amalan yang dilakukan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah daripada menumpahkan darah hewan qurban.” (HR. Tirmidzi)

 

Maka jangan sampai kita menjadi orang yang mampu tetapi enggan berqurban.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

 

“Barangsiapa memiliki kelapangan rezeki tetapi tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah)

 

Jadikanlah qurban sebagai bukti cinta kepada Allah, bukti syukur atas nikmat-Nya, dan bukti kepedulian kepada sesama kaum muslimin.

 

Semoga Allah menerima amal ibadah kita, menerima qurban kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَتَقَبَّلْ قُرْبَانَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنَّا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ