Langit Jumat sore itu terasa begitu teduh. Gerimis tipis turun perlahan, seakan turut mengantar duka yang menyelimuti keluarga besar Hidayatullah serta jamaah majelis taklim yang tumbuh dalam bimbingannya. Kini, Hidayatullah kehilangan salah satu kader terbaiknya, Ustadz Endang Abdul Rohman.
Ia wafat pada usia 57 tahun, meninggalkan seorang istri, Dewi Asih, empat anak: Aisyah Kamila, Farhan Ahmad Kamali, Moch. Armand Maularrahman dan Hikma Maulidya. Juga seorang menantu Aiji Nurrohman, serta dua cucu: Aimi Atqo Atqiya dan Hilya Aishwa Izzatunnisa
Kepergiannya begitu mendadak. Pada Jumat, 15 Mei 2026 pukul 16.30 WIB, Allah SWT memanggilnya kembali ke haribaan-Nya di kediamannya, di lingkungan Yayasan Hayatan Thayyibah (YHT) Pesantren Hidayatullah Bandung.
Pria kelahiran Tasikmalaya, 13 Agustus 1969 itu dikenal sebagai sosok yang tak pernah lelah mengemban amanah dakwah. Berbagai amanah pernah dipercayakan kepadanya, mulai dari Mudir Yayasan Hayatan Thayyibah (YHT) Pesantren Hidayatullah Bandung periode 2015–2017, Ketua YHT 2017–2020, hingga dipercaya di Departemen Pendidikan Keluarga dan Anak Usia Dini DPP Hidayatullah periode 2020–2025, meskipun dijalani hingga dua tahun karena kesehatan yang mulai menurun. Ia juga diamanahi sebagai anggota pembina YHT periode 2020–2026, anggota pengawas Koprs Mubaligh Hidayatullah Jabar, serta banyak amanah lainnya.
Dakwah Bil Qalam
Anak pertama dari lima bersaudara dari pasangan H. Momon Bahrudin dengan Ida Widarsih ini juga aktif menulis di rubrik “Kelambu” di majalah Mulia BMH.
Pada Ramadhan lalu, beliau masih menorehkan jejak dakwah melalui tulisan. Selama 30 hari penuh, beliau menulis kajian kultum di website Hidayatullahjabar.com. Tulisan-tulisannya dibaca lebih dari 6.000 pembaca, menjadi sumber ilmu dan pengingat kebaikan bagi banyak orang.
Kepada Hidayatullahjabar.com, beliau bahkan sempat menyampaikan keinginannya untuk menulis naskah Khutbah Idul Adha 2026. Namun, Allah SWT lebih dahulu memanggil beliau pulang. Meski demikian, jejak dakwah yang telah beliau tinggalkan akan terus hidup dan mengalirkan pahala kebaikan.
Alumni Gontor ini bergabung di Hidayatullah pada tahun 1997. Pernah menjadi dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al Hakim (STAIL) Surabaya.
Menurut Abdul Ghofar Hadi, mantan mahasiswanya, beliau sosok yang tidak mengenal jarak dengan para mahasiswa. Ia selalu hadir memberikan solusi kepada mahasiswa yang bermasalah atau guncang.
“Beliau duduk, ngobrol, bercanda bersama mahasiswa tanpa kehilangan wibawanya sebagai seorang pendidik yang disegani,” ujar Abdul Ghofar Hadi, yang kini diamanahi Ketua Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah.
Yana Suryana, yang pernah menjadi santri almarhum sewaktu mondok di Pesantren Hidayatullah Surabaya, mengatakan bahwa saat itu di tengah kerasnya disiplin kehidupan pesantren, beliau hadir dengan pendekatan yang berbeda.
“Ketika ada santri yang melanggar aturan, selama masih dalam batas kenakalan yang wajar, beliau selalu memberi ruang untuk berubah. Memberi waktu untuk bertaubat. Memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Beliau tidak hanya menasihati, tetapi juga mendampingi,” ujar Yana Suryana, Ketua DPD Hidayatullah Garut, mengenang masa itu.
Perjalanan dakwah Endang Abdul Rohman terus berlanjut. Ia kemudian ditugaskan oleh Ustadz Abdurrahman untuk mendampingi Kakek Hasan Hasli di Pusdiklat Wisata Ruhani Hidayatullah, Batu, Malang. Di tempat itu, ia tidak hanya belajar dan mengabdi, tetapi juga dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua DPD Hidayatullah Batu.
Setelah itu, medan pengabdiannya berlanjut ke Bandung. Di Jawa Barat, ia kembali dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat periode 2015–2020, meneguhkan perannya sebagai kader dakwah yang istiqamah dalam perjuangan.
Amanah Terakhir
Sebelum wafat, ia masih menunaikan amanahnya sebagai anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Jawa Barat. Ia mengisi acara Lailatul Ijtima’ dan Pelantikan Pos Dai Jawa Barat di Aula Atang Sahidin, Pesantren At-Taqwa Hidayatullah Bandung Barat.
Ia menyampaikan materi berjudul “Membingkai Dakwah di Labirin Beton”. Di tengah penyampaian materi, ia sempat terlihat kelelahan. Panitia berusaha mengingatkan agar ceramah beliau disudahi. "Cukup Ustadz, istirahat dulu." Tapi ia menjawab, "Tidak apa-apa, lanjut, saya tahu batasan." Hingga ia menuntaskan materi.
Setelah selesai, kondisinya mulai kritis. Sekitar pukul 23.00 WIB, ia dibawa ke RS Cahya Kawaluyaan dan mendapat penanganan oleh dokter di ruang ICU UGD. Namun, kemudian keluarga memutuskan membawa beliau kembali ke pesantren.
Menurut sang istri, Dewi Asih, “Almarhum selalu optimis, semangat, pantang mengeluh dengan amanahnya,” ujarnya dengan mata berbinar.
Menurutnya, suaminya adalah sosok yang selalu tersenyum. Ayah yang menyayangi, mengayomi, melayani keluarga dengan kelembutan, kesabaran dan ketegasannya. Kadang bercanda riang, romantis dan sangat memahami kondisi istri.
Semoga Allah Ta'ala mengampuni dan merahmati beliau. Serta menempatkan beliau di surga-Nya bersama para nabi, syuhada, dan orang-orang shaleh. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu’anhu. Aamiin.
Redaktur: Dadang Kusmayadi

