Khutbah Jumat: Bakti Terbaik Seorang Anak Kepada Orang Tua


Oleh: Ustadz Naufal Abdullah*

*penulis adalah pengasuh Pesantren Hidayatullah Cilengkrang Bandung  dan Departemen Ekonomi DPW Hidayatullah Jawa Barat

 

Khutbah Pertama:

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

الحمد لله الذي أمرنا ببر الوالدين، ونهانا عن عقوقهما، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

 

Amma ba’du.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

 

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Takwa bukan hanya diwujudkan dengan banyaknya ibadah kepada Allah, tetapi juga dengan berbuat baik kepada sesama manusia, terutama kepada kedua orang tua.

 

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak diri khatib pribadi dan seluruh jamaah untuk merenungkan sebuah tema: “Bakti Terbaik Seorang Anak kepada Orang Tua

 

Jamaah yang dimuliakan Allah,

 

Tidak ada manusia yang jasanya begitu besar kepada kita setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala selain kedua orang tua.

 

Seorang ibu mengandung kita selama kurang lebih sembilan bulan. Ia menahan rasa sakit, lelah dan berbagai kesulitan. Ketika melahirkan, nyawanya menjadi taruhan. Setelah itu, ia menyusui, menjaga, merawat dan mendidik kita dengan penuh kasih sayang.

 

Sedangkan ayah, mungkin tidak selalu banyak berbicara. Namun di balik diamnya, ada perjuangan. Ia bekerja, berkeringat, memikirkan masa depan anak-anaknya, bahkan sering kali menyimpan kesulitannya sendiri agar keluarganya tetap bahagia.

 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

 

«وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا»

 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23)

 

Perhatikan, jamaah. Setelah Allah memerintahkan kita untuk mentauhidkan dan menyembah-Nya, Allah langsung memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah ibadah yang sangat agung di sisi Allah. Kemudian Allah berfirman:

 

«إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا»

 

“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

 

Jika mengucapkan kata “ah” saja dilarang, maka terlebih lagi membentak, mencaci, menyakiti, merendahkan, bahkan meninggalkan orang tua dalam keadaan mereka membutuhkan kita.

 

Maka bakti terbaik seorang anak bukan hanya memberikan uang. Bukan pula sekadar membelikan pakaian atau makanan. Bakti terbaik adalah menghadirkan kasih sayang, perhatian, penghormatan, dan ketaatan kepada orang tua selama tidak bertentangan dengan syariat Allah.

 

Pertama, berbakti dengan perkataan yang baik

 

Jangan pernah meninggikan suara kepada ayah dan ibu. Jangan membalas nasihat dengan kemarahan. Jangan sampai kita lebih ramah kepada orang lain, tetapi kasar kepada orang tua sendiri. Allah berfirman:

 

«وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ»

 

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang.” (QS. Al-Isra: 24)

 

Ketika orang tua sudah lanjut usia, mungkin mereka sering mengulang perkataan. Mungkin mereka mudah lupa. Mungkin sikap mereka berubah karena kelemahan usia. Pada saat itulah kesabaran seorang anak benar-benar diuji. Dulu, ketika kita masih kecil, kita juga sering menangis, rewel, mengulang-ulang permintaan dan membuat orang tua lelah.

Namun mereka tetap sabar merawat kita. Maka ketika mereka sudah tua, jangan sampai kita merasa terbebani. Justru inilah kesempatan kita membalas sebagian kecil dari jasa mereka.

 

Kedua, membantu kebutuhan orang tua

 

Jika kita memiliki kemampuan, maka bantu kebutuhan mereka. Jangan menunggu diminta. Berikan apa yang kita mampu. Tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk berbakti.

 

Senyum kepada orang tua adalah bakti. Mengangkat barang mereka adalah bakti. Mengantarkan mereka adalah bakti. Membelikan makanan yang mereka sukai adalah bakti. Meluangkan waktu untuk menemani mereka adalah bakti.

 

Kadang-kadang orang tua tidak membutuhkan harta kita sebanyak mereka membutuhkan kehadiran kita.

 

Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari kebahagiaan di luar rumah, tetapi lupa membahagiakan orang tua yang ada di rumah.

 

Ketiga, mendoakan orang tua

 

Inilah salah satu bakti yang tidak pernah berhenti, baik ketika orang tua masih hidup maupun setelah mereka meninggal dunia. Allah mengajarkan doa:

 

«رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا»

 

“Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku ketika kecil.” (QS. Al-Isra: 24)

 

Jamaah yang berbahagia,

 

Jika orang tua kita masih hidup, maka jangan menunda untuk meminta maaf. Jangan menunggu Hari Raya. Jangan menunggu mereka sakit. Jangan menunggu mereka meninggalkan dunia ini.

 

Peluklah mereka. Ucapkan: “Ayah, Ibu, maafkan anakmu. Terima kasih atas semua perjuangan dan kasih sayangmu.”

Sebab kita tidak pernah tahu kapan kesempatan itu berakhir.

 

Hadirin rahimakumullah,

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

«رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ»

 

“Keridaan Allah bergantung pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah bergantung pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi)

 

Maka jangan remehkan perasaan orang tua. Jangan sampai kita sukses dalam urusan dunia, tetapi gagal mendapatkan rida mereka.

 

Jangan sampai kita memiliki jabatan yang tinggi, harta yang banyak, dan rumah yang megah, tetapi orang tua hidup dalam kesedihan karena perilaku kita.

 

Sukses terbesar seorang anak bukan hanya ketika ia berhasil dalam karier, tetapi ketika keberhasilannya membuat orang tuanya tersenyum dan bangga.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

 

Mari kita renungkan:

  • ü  Berapa kali kita menghubungi orang tua?
  • ü  Berapa kali kita bertanya tentang keadaan mereka?
  • ü  Berapa kali kita membantu mereka tanpa diminta?
  • ü  Berapa kali kita mendoakan mereka?
  • ü  Dan berapa kali kita membuat hati mereka terluka?

 

Jika selama ini kita masih memiliki kekurangan dalam berbakti, maka hari ini adalah saatnya untuk memperbaiki diri.

 

  • Karena orang tua tidak hidup selamanya.
  • ü  Selama mereka masih bersama kita, berbaktilah.
  • ü  Selama masih bisa mendengar suara mereka, dengarkanlah.
  • ü  Selama masih bisa mencium tangan mereka, lakukanlah.

 

Dan ketika mereka telah meninggalkan dunia ini, jangan putuskan bakti kita. Kirimkan doa, sedekah atas nama mereka, dan teruslah menjadi anak saleh yang menjadi kebanggaan mereka.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

«إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

 

“Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

 

Maka salah satu hadiah terbaik yang dapat kita berikan kepada orang tua setelah mereka meninggal adalah menjadi anak yang saleh dan salehah serta senantiasa mendoakan mereka.

 

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

---

 

Khutbah Kedua:

 

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.

 

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.

 

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

 

Amma ba’du.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

 

Kembali khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan seluruh jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mari kita jadikan bakti kepada orang tua sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Bagi kita yang orang tuanya masih hidup, jangan sia-siakan kesempatan:

  • ü  Teleponlah mereka.
  • ü  Kunjungilah mereka.
  • ü  Bantulah mereka.
  • ü  Mohonlah doa mereka.
  • ü  Dan bagi kita yang orang tuanya telah meninggalkan dunia, jangan pernah berhenti mendoakan mereka.

 

Marilah kita tundukkan kepala, memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala:

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

 

Ya Allah, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami. Sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangi dan mendidik kami ketika kecil.

Ya Allah, bagi orang tua kami yang masih hidup, berikanlah kesehatan, keberkahan umur, dan kekuatan dalam ketaatan kepada-Mu.

Ya Allah, bagi orang tua kami yang telah meninggal dunia, lapangkanlah kuburnya, terangilah tempat peristirahatannya, ampuni segala dosanya, dan tempatkanlah mereka di surga terbaik-Mu.

Ya Allah, jadikan kami anak-anak yang berbakti, yang mampu menjaga lisan, menjaga sikap, membahagiakan orang tua, dan menjadi penyejuk hati mereka.

 

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

 

عباد الله،

 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

 

فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر.

 

وأقم الصلاة.

 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.