Khutbah Jumat: Berani Minta Maaf, Lapang Memaafkan



 *penulis adalah Ketua DPD Hidayatullah Kab.Bandung

KHUTBAH PERTAMA:

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

 

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

 

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

 

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Kita sering salah dalam ucapan, perbuatan, bahkan dalam hati. Karena itu, ada dua sikap yang harus selalu kita miliki: kepada Allah kita senantiasa memohon ampun, dan kepada sesama manusia kita berani meminta maaf serta lapang dalam memaafkan.

Jangan pernah berhenti memohon ampun kepada Allah

 

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

 

وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا

 

"Barang siapa mengerjakan kejahatan atau menzalimi dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa': 110)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

 

Kita harus selalu memohon ampun kepada Allah karena kita adalah manusia yang tidak luput dari dosa dan kesalahan. Jangan merasa diri kita bersih dari dosa. Semakin kita mengenal Allah, semakin kita menyadari betapa banyak kekurangan dan kesalahan kita.

 

Rasulullah ﷺ, manusia yang telah diampuni dosa-dosanya, justru banyak beristighfar. Beliau bersabda:

 

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

 

"Demi Allah, sungguh aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR. Bukhari)

 

Maka jangan menunggu merasa banyak dosa untuk beristighfar. Jadikan istighfar sebagai kebutuhan setiap hari.

 

Berani meminta maaf kepada manusia

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

 

Jika kesalahan kita berkaitan dengan manusia, jangan cukup hanya beristighfar kepada Allah. Kita juga harus meminta maaf kepada orang yang kita zalimi.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

 

"Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatan maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta kehalalannya (meminta maaf) kepadanya hari ini, sebelum datang hari ketika tidak ada lagi dinar dan dirham." (HR. Bukhari)

 

Karena itu, jangan gengsi untuk mengatakan: “Maafkan saya.”

 

Meminta maaf bukan tanda kehinaan. Justru orang yang berani mengakui kesalahan menunjukkan kerendahan hati dan kekuatan iman.

 

Jadilah pemaaf dan berlapang dada dari kesalahan orang

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

 

Islam tidak hanya mengajarkan kita meminta maaf, tetapi juga mengajarkan kita untuk menjadi orang yang mudah memaafkan.

 

 

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

 

 

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

 

 

"Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nur: 22)

 

 

Perhatikan kalimat yang sangat menyentuh:

 

 

أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

 

 

"Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?"

 

 

Kalau kita ingin Allah mengampuni kesalahan kita, maka janganlah kita terlalu berat untuk mengampuni kesalahan orang lain.

 

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

 

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

 

 

"Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba karena ia suka memaafkan, kecuali kemuliaan." (HR. Muslim)

 

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

 

Ada orang yang enggan meminta maaf karena merasa dirinya selalu benar dan bersih dari kesalahan, baik di hadapan Allah maupun sesama manusia.

 

Ada orang yang ingin selalu dimaafkan, tetapi sulit memaafkan. Ia ingin orang lain memahami kesalahannya, tetapi tidak mau memahami kesalahan orang lain.

 

 

Ada pula orang yang mudah mengatakan, “Saya sudah memaafkan,” tetapi di dalam hatinya masih menyimpan dendam dan merasa dirinya selalu benar.

 

 

Sikap seperti ini harus kita tinggalkan.

 

Orang beriman bukanlah orang yang selalu merasa dirinya benar dan orang lain selalu salah. Orang beriman adalah orang yang mau mengoreksi dirinya, berani meminta maaf ketika salah, dan mampu memaafkan ketika dizalimi.

 

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

 

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

 

"Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran: 134)

 

 

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

 

Mari kita perbaiki hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama manusia.

 

Kepada Allah, jangan pernah lelah memohon ampun.

 

Kepada manusia, jangan gengsi meminta maaf ketika kita salah.

 

Dan ketika orang lain berbuat salah kepada kita, jangan berat untuk memaafkan.

 

Jangan sampai kita ingin mendapatkan ampunan Allah, tetapi kita sendiri tidak mau mengampuni kesalahan sesama.

 

Marilah kita menjadi hamba yang rendah hati untuk meminta maaf, lapang hati untuk memaafkan, dan selalu berharap kepada ampunan Allah سبحانه وتعالى.

 

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

 

KHUTBAH KEDUA:

 

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

 

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

 

Marilah kita mengingat kembali tiga perkara:

 

Pertama, jangan pernah berhenti memohon ampun kepada Allah, karena kita selalu memiliki kekurangan dan kesalahan.

 

Kedua, apabila kita melakukan kesalahan kepada manusia, jangan gengsi untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan.

 

Ketiga, apabila orang lain melakukan kesalahan kepada kita, jadilah orang yang pemaaf dan jangan menyimpan dendam.

 

Namun ada satu perkara yang tidak kalah penting: jangan hanya memohon ampun untuk diri sendiri, tetapi doakan pula agar Allah mengampuni orang lain.

 

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

 

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

 

"Dan orang-orang yang datang setelah mereka berdoa: 'Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami.'" (QS. Al-Hasyr: 10)

 

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa hati seorang mukmin tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Ia juga mendoakan yang lain agar mendapatkan ampunan Allah.

 

Oleh karena itu, marilah kita berdoa agar Allah mengampuni dosa kita, kedua orang tua kita, keluarga kita, guru-guru kita, dan seluruh kaum muslimin.

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَخَطَايَانَا، وَاغْفِرْ لِوَالِدِينَا، وَلِأَهْلِنَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَذْهِبِ الْغِلَّ وَالْحِقْدَ وَالْحَسَدَ مِنْ قُلُوبِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ. اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِمَنْ أَسَاءَ إِلَيْنَا، وَاغْفِرْ لِمَنْ أَخْطَأْنَا فِي حَقِّهِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ.  رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

 

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.