Bangun Generasi Qur’ani, Hidayatullah Purwakarta Tekankan Peran Orang Tua



HIDAYATULLAHJABAR.COM, PURWAKARTA —Majelis Ta’lim Al Fatihah Ma’had Hidayatullah Purwakarta bekerja sama dengan PD Muslimat Hidayatullah (Mushida) Purwakarta kembali menggelar kajian bulanan. Kegiatan kali ini mengangkat tema yang relevan dengan tantangan orang tua dalam mendidik anak di tengah kehidupan keluarga. 


Kajian bertajuk “Menumbuhkan Cinta Anak kepada Allah dan Al-Qur’an” tersebut digelar pada Sabtu (26/9/2026) di Masjid Al-Fatihah, Ma’had Hidayatullah Purwakarta.


Kajian ini terbuka untuk umum dengan menghadirkan Ustadzah Tia Fadilah, Direktur Quranic School Kuningan, sebagai pemateri. 


Kegiatan ini diikuti oleh para wali murid RA Yaa Bunayya serta wali murid MDTU/TPQ Al Fatihah. Selain itu, masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap pendidikan dan pembentukan karakter anak, khususnya dalam menanamkan kecintaan kepada Allah SWT dan Al-Qur’an sejak usia dini.


Kajian ini terbuka untuk umum dengan menghadirkan Ustadzah Tia Fadilah, Direktur Quranic School Kuningan, sebagai pemateri. Kegiatan tersebut diikuti oleh para wali murid RA Yaa Bunayya serta wali murid MDTU/TPQ Al Fatihah. 


Kerja sama antara Majelis Ta’lim Al Fatihah dan Mushida ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi dalam pembinaan keluarga dan pendidikan generasi. Melalui kegiatan tersebut, para orang tua diajak memahami bahwa pendidikan anak tidak hanya berlangsung di sekolah atau lembaga pendidikan al-Qur’an, tetapi juga berawal dari lingkungan keluarga.

Suasana rumah, kebiasaan yang dibangun sehari-hari, serta keteladanan orang tua menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dan menumbuhkan kecintaan anak kepada Allah SWT dan al-Qur’an.


Dilakukan Secara Konsisten


Dalam kajiannya, Ustadzah Tia menekankan bahwa menumbuhkan kecintaan anak kepada Allah dan al-Qur’an tidak cukup hanya melalui nasihat atau pengajaran agama. Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan melalui pembiasaan, keteladanan, suasana keluarga yang mendukung, serta proses pendidikan yang dilakukan secara konsisten.


Menurutnya, langkah pertama yang perlu dibangun oleh orang tua adalah meluruskan fokus dan tujuan pendidikan karena Allah SWT.

 

“Ketika orientasi orang tua tertuju kepada Allah, berbagai proses mendidik anak akan lebih terarah dan tidak semata-mata berorientasi pada capaian akademik atau keberhasilan duniawi,” ungkap Ustadzah Tia.


Setelah menetapkan tujuan Pendidikan, orang tua juga perlu menentukan kebiasaan (habit) yang ingin dibangun sejak anak berusia dini. Menurutnya, kebiasaan dapat dimulai dari hal-hal sederhana dalam keseharian, seperti mengucapkan salam, meminta izin, menjaga adab berbicara, hingga membangun kebiasaan ibadah. 


“Dalam prosesnya, orang tua perlu sabar, konsisten, tidak terlalu banyak memberikan komentar, serta tidak mudah mentoleransi perilaku yang dapat merusak kebiasaan baik yang sedang dibentuk,” ujarnya.


Selain itu, orang tua juga perlu membiasakan jadwal secara bertahap sesuai usia dan kemampuan anak. Dalam pembiasaan shalat, misalnya, anak tidak serta-merta dituntut mencapai kesempurnaan, melainkan diarahkan secara bertahap hingga ibadah tersebut menjadi bagian dari rutinitas kehidupannya. Konsistensi menjadi salah satu kunci penting agar kebiasaan baik dapat tumbuh menjadi karakter.


Ustadzah Tia juga mengajak para orang tua untuk menanamkan nilai-nilai keislaman bersama anak melalui keteladan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, orang tua dapat mengajak anak shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an bersama, serta menciptakan ruang dialog melalui deep talk sederhana mengenai berbagai persoalan yang hadapi anak. 


Keteladanan atau qudwah hasanah menjadi bagian penting dalam proses Pendidikan anak. Anak belajar tidak hanya belajar dari nasihat orang tua, tetapi juga dari perilaku yang mereka lihat dan rasakan sehari-hari. 


Karena itu, perilaku orang tua dalam beribadah, berbicara, bersikap, dan menghadapi persoalan menjadi contoh yang secara langsung akan direkam oleh anak.


Iringi dengan Doa


Menutup pembahasannya, Ustadzah Tia mengingatkan pentingnya memperbanyak doa dalam mendidik anak. Pendidikan membutuhkan proses panjang yang tidak selalu dapat diukur hasilnya dalam waktu singkat. Karena itu, ikhtiar pendidikan perlu berjalan beriringan dengan doa dan ketergantungan kepada Allah SWT.


Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Melalui kajian tersebut, para orang tua diharapkan tidak hanya menyerahkan proses pendidikan anak kepada sekolah atau lembaga pendidikan, tetapi turut mengambil peran aktif dalam membangun lingkungan pendidikan yang selaras antara rumah dan sekolah.


Sinergi tersebut dinilai penting agar nilai-nilai yang diajarkan di lembaga pendidikan dapat terus diperkuat melalui pembiasaan dan keteladanan di lingkungan keluarga. Dengan demikian, pendidikan anak menjadi tanggung jawab bersama yang berjalan secara berkesinambungan, baik di rumah maupun di sekolah.


Reporter: Muhammad Al Haariz


Editor: Dadang Kusmayadi