*Penulis adalah Ketua DPD Hidayatullah Kab.Bandung
KHUTBAH PERTAMA :
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَنَا وَرَزَقَنَا، وَأَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Pertama-tama marilah kita bersyukur akan
nikmat Allah dan senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan melaksanakan segala perintah-Nya
dan menjauhi segala larangan-Nya. Marilah kita memperkuat iman, memperbanyak
amal saleh, serta menjaga hati agar senantiasa berbaik sangka kepada Allah سبحانه وتعالى.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dunia ini ujian dan kita pasti akan
menghadapi ujian tersebut, tapi sebagai seorang mukmin kita harus senantiasa
yakin dan berbaik sangka kepada Allah, bahwa Allah akan memberikan yang
terbaik, memberi kemampuan, kemudahan, Rahmat, Ampunan, dan jalan keluar dalam
setiap keadaan.
Maka...
1. Yakinlah! Tidak Semua yang Kita Sukai
Itu Baik, dan Tidak Semua yang Kita Benci Itu Buruk
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal
itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk
bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”(QS. Al-Baqarah: 216)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ayat ini mengajarkan bahwa pengetahuan
manusia sangat terbatas. Kita sering menilai sesuatu hanya berdasarkan apa yang
kita rasakan sekarang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى mengetahui akibat dan hikmah dari segala
sesuatu.
Tidak semua orang mendapatkan apa yang
diinginkannya. Kita mungkin berharap memperoleh pasangan hidup yang sempurna,
ideal dan sesuai dengan kriteria yang diimpikannya, tetapi kenyataannya tidak
demikian, Kita mungkin sangat menginginkan suatu pekerjaan, tetapi belum
mendapatkannya. Kita mungkin berharap suatu urusan berjalan sesuai rencana,
tetapi ternyata gagal. Kita mungkin merasa kehilangan sesuatu yang sangat
berharga, padahal kita belum mengetahui apa yang Allah tetapkan setelahnya.
Karena itu, janganlah kita hanya melihat
apa yang hilang, tetapi lihatlah juga kesempatan untuk bersabar, memperbaiki
diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Bisa jadi sesuatu yang kita inginkan tidak
diberikan karena ada keburukan yang tidak kita ketahui. Bisa jadi sesuatu yang
tidak kita sukai menjadi jalan untuk memperbaiki iman, akhlak, dan kehidupan
kita.
2. Yakinlah! Bahwa Allah Tidak Membebani di
Luar Kemampuan
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kehidupan manusia tidak terlepas dari
ujian. Ada yang diuji dengan kekurangan harta, ada yang diuji dengan penyakit,
ada yang diuji dengan masalah keluarga, dan ada pula yang diuji dengan
kelapangan serta kekayaan.
Setiap orang memiliki bentuk ujian yang
berbeda. Karena itu, jangan mudah membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan
orang lain.
Kita melihat orang lain memiliki harta yang
banyak, sementara kita hidup sederhana. Kita melihat orang lain mendapatkan
kemudahan, sementara kita harus berjuang menghadapi kesulitan.
Padahal, kita tidak mengetahui seluruh
keadaan mereka. Bisa jadi orang yang terlihat bahagia juga sedang menghadapi
persoalan yang tidak kita ketahui.
Oleh karena itu, jangan jadikan ujian
sebagai alasan untuk berputus asa. Hadapilah dengan sabar, carilah jalan keluar
yang halal, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan ragu meminta bantuan
kepada orang yang mampu menolong.
Ingatlah, kesulitan bukan bukti bahwa Allah
membenci kita. Ujian dapat menjadi sarana untuk menghapus dosa, menguatkan
iman, dan meningkatkan derajat seorang hamba apabila dihadapi dengan iman dan
amal saleh.
3. Yakinlah! Bahwa Bersama Kesulitan Ada
Kemudahan
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada
kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS. Asy-Syarh: 5–6)
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Allah mengulang kabar tentang kemudahan
bersama kesulitan. Ini menjadi pengingat agar kita tidak mudah menyerah ketika
menghadapi masalah.
Ketika usaha kita belum berhasil, jangan
berhenti berikhtiar. Ketika doa belum terwujud sesuai harapan, jangan berhenti
berdoa. Ketika kita terjatuh dalam kesalahan, jangan terus-menerus tenggelam
dalam penyesalan, tetapi segeralah bertaubat dan memperbaiki diri.
Kemudahan yang Allah berikan bisa hadir
melalui jalan keluar dari masalah, pertolongan orang lain, kekuatan hati untuk
bertahan, atau kesempatan untuk mendapatkan pahala melalui kesabaran.
Karena itu, jangan mengukur kasih sayang
Allah hanya dari banyaknya harta, mudahnya urusan, atau terpenuhinya semua
keinginan kita.
Terkadang nikmat terbesar bukanlah
mendapatkan apa yang kita inginkan, melainkan diberikan hati yang sabar, iman
yang kokoh, dan kemampuan untuk tetap taat kepada Allah dalam keadaan apa pun.
4. Yakinlah! Akan Rahmat dan Ampunan Allah
yang Luas
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang
melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari
rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah
Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
(QS. Az-Zumar: 53)
Hadirin rahimakumullah,
Di antara bentuk husnuzan kepada Allah
adalah tidak berputus asa dari ampunan-Nya.
Mungkin di antara kita ada yang memiliki
masa lalu yang kelam. Ada yang pernah melakukan kesalahan besar. Ada yang
merasa jauh dari Allah karena banyaknya dosa dan kelalaian.
Namun, yakinlah pintu taubat masih terbuka,
jangan biarkan dosa menjadikan kita putus asa dari rahmat Allah.
Allah memerintahkan kita untuk kembali
kepada-Nya. Taubat bukan sekadar penyesalan, tetapi juga meninggalkan dosa,
bertekad tidak mengulanginya, dan mengembalikan hak orang lain apabila
kesalahan tersebut berkaitan dengan hak manusia.
Jangan mengatakan, “Saya sudah terlalu
banyak dosa, tidak mungkin Allah mengampuni saya.”
Sebaliknya, katakanlah dalam hati, “Saya
telah banyak melakukan kesalahan, maka saya harus segera bertaubat. Allah Maha
Pengampun dan saya tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya.”
Semakin besar dosa yang kita sesali,
semakin kuat pula tekad kita untuk memperbaiki diri dan kembali kepada Allah.
5. Yakinlah Allah akan Memberi jalan keluar
dan Rezeki yang tidak disangka.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ٢ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah,
niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki
dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada
Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Talaq: 2 dan 3)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Yakinlah, pertolongan Allah itu nyata.
Tetaplah bertakwa, bersabar, dan bertawakal kepada-Nya.
Ketika jalan terasa buntu, Allah mampu
membukakan jalan keluar.
Ketika rezeki terasa sempit, Allah mampu
mendatangkannya dari arah yang tidak pernah kita sangka.
Husnuzan kepada Allah harus berjalan
bersama ikhtiar dan tawakal. Kita tidak boleh hanya menunggu pertolongan tanpa
melakukan usaha yang benar.
Ketika mengharapkan rezeki, kita bekerja
dengan cara yang halal. Ketika mengharapkan keluarga yang saleh, kita mendidik
keluarga dengan ilmu dan keteladanan. Ketika mengharapkan kesehatan, kita
berusaha menjaga kesehatan dan mencari pengobatan yang diperlukan. Ketika
mengharapkan ampunan, kita bertaubat dan memperbaiki amal.
Setelah berusaha, kita serahkan hasilnya
kepada Allah.
Apabila hasilnya sesuai harapan,
bersyukurlah. Apabila hasilnya belum sesuai harapan, evaluasilah usaha kita,
perbaiki kekurangan, dan teruslah melangkah dengan penuh harapan.
Kita tidak mengetahui seluruh hikmah di
balik ketetapan Allah. Karena itu, jangan sampai kegagalan membuat kita
berhenti berbuat baik, dan jangan sampai keberhasilan membuat kita lupa
kepada-Nya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dari seluruh penjelasan ini, marilah kita
mengambil pelajaran bahwa husnuzan kepada Allah merupakan sikap hati yang harus
diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika mendapatkan nikmat, kita bersyukur.
Ketika menghadapi ujian, kita bersabar. Ketika berbuat dosa, kita bertaubat.
Ketika memiliki keinginan, kita berdoa dan berikhtiar. Ketika menghadapi hasil
yang berbeda dari harapan, kita bertawakal dan terus memperbaiki diri.
Janganlah kita menilai kasih sayang Allah
hanya dari terpenuhinya keinginan kita. Bisa jadi sesuatu yang kita inginkan
bukanlah yang terbaik bagi kita. Sebaliknya, sesuatu yang belum kita sukai
mungkin mengandung pelajaran yang berharga.
Marilah kita senantiasa berhusnuzan kepada
Allah, tanpa meninggalkan kewajiban untuk berusaha, memperbaiki diri, dan
menaati perintah-Nya.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
KHUTBAH KEDUA:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita kembali mengingat bahwa
kehidupan dunia adalah tempat ujian. Tidak semua yang kita inginkan akan kita
dapatkan, dan tidak semua yang kita alami dapat kita pahami hikmahnya saat ini.
Namun, seorang mukmin tidak boleh berburuk
sangka kepada Allah سبحانه وتعالى.
Rasulullah ﷺ
menyampaikan firman Allah سبحانه وتعالى dalam hadis qudsi:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku
kepada-Ku.”(HR. Bukhari
dan Muslim)
Hadirin rahimakumullah,
Hadis ini mengajarkan kepada kita agar
senantiasa berbaik sangka kepada Allah, yakinlah akan rahmat, ampunan, dan
pertolongan Allah سبحانه وتعالى.
Ketika kita berdoa, yakinlah bahwa Allah
mendengar doa kita. Ketika kita bertaubat, berharaplah kepada ampunan-Nya.
Ketika menghadapi kesulitan, jangan kehilangan harapan terhadap
pertolongan-Nya.
Namun, husnuzan bukan berarti kita boleh
bermalas-malasan dan mengabaikan kewajiban.
Berprasangka baik kepada Allah harus
disertai dengan ketaatan, ikhtiar, doa, taubat, dan tawakal.
Orang yang berhusnuzan kepada Allah tetap
bekerja ketika mengharapkan rezeki, tetap berobat ketika sakit, tetap
memperbaiki diri ketika melakukan kesalahan, dan tetap berdoa ketika menghadapi
kesulitan.
Karena itu, mari kita jaga hati kita dari
buruk sangka kepada Allah. Jangan sampai kesulitan membuat kita berputus asa,
jangan sampai musibah membuat kita meninggalkan ibadah, dan jangan sampai dosa
membuat kita enggan bertaubat.
Kita memohon kepada Allah agar diberi hati
yang tenang, iman yang kokoh, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan kemampuan
untuk senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَصِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَقُوَّةَ الْإِيمَانِ بِكَ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا سَلِيمَةً، وَنُفُوسًا مُطْمَئِنَّةً، وَأَلْسِنَةً ذَاكِرَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً مُتَقَبَّلَةً.
اللَّهُمَّ إِذَا ابْتَلَيْتَنَا فَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ، وَإِذَا أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا فَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ، وَإِذَا أَذْنَبْنَا فَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوبَنَا، وَفَرِّجْ هُمُومَنَا، وَنَفِّسْ كُرُوبَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَارْزُقْنَا مِنْ حَيْثُ لَا نَحْتَسِبُ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا وَدُنْيَانَا وَآخِرَتَنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا أَهْلِينَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ وَطَاعَتِكَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِمُعَلِّمِينَا، وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

