Khutbah Jumat: Berhusnuzan Kepada Allah

“Semua dari Allah Pasti Terbaik”

 *Penulis adalah Ketua DPD Hidayatullah Kab.Bandung


KHUTBAH PERTAMA :

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَنَا وَرَزَقَنَا، وَأَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

 

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

 

Pertama-tama marilah kita bersyukur akan nikmat Allah dan senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Marilah kita memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, serta menjaga hati agar senantiasa berbaik sangka kepada Allah سبحانه وتعالى.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

 

Dunia ini ujian dan kita pasti akan menghadapi ujian tersebut, tapi sebagai seorang mukmin kita harus senantiasa yakin dan berbaik sangka kepada Allah, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik, memberi kemampuan, kemudahan, Rahmat, Ampunan, dan jalan keluar dalam setiap keadaan.

 

Maka...

 

1. Yakinlah! Tidak Semua yang Kita Sukai Itu Baik, dan Tidak Semua yang Kita Benci Itu Buruk

 

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

 

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”(QS. Al-Baqarah: 216)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

 

Ayat ini mengajarkan bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas. Kita sering menilai sesuatu hanya berdasarkan apa yang kita rasakan sekarang, sedangkan Allah سبحانه وتعالى mengetahui akibat dan hikmah dari segala sesuatu.

 

Tidak semua orang mendapatkan apa yang diinginkannya. Kita mungkin berharap memperoleh pasangan hidup yang sempurna, ideal dan sesuai dengan kriteria yang diimpikannya, tetapi kenyataannya tidak demikian, Kita mungkin sangat menginginkan suatu pekerjaan, tetapi belum mendapatkannya. Kita mungkin berharap suatu urusan berjalan sesuai rencana, tetapi ternyata gagal. Kita mungkin merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga, padahal kita belum mengetahui apa yang Allah tetapkan setelahnya.

 

Karena itu, janganlah kita hanya melihat apa yang hilang, tetapi lihatlah juga kesempatan untuk bersabar, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.

 

Bisa jadi sesuatu yang kita inginkan tidak diberikan karena ada keburukan yang tidak kita ketahui. Bisa jadi sesuatu yang tidak kita sukai menjadi jalan untuk memperbaiki iman, akhlak, dan kehidupan kita.

 

2. Yakinlah! Bahwa Allah Tidak Membebani di Luar Kemampuan

 

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

 

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

 

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

 

Kehidupan manusia tidak terlepas dari ujian. Ada yang diuji dengan kekurangan harta, ada yang diuji dengan penyakit, ada yang diuji dengan masalah keluarga, dan ada pula yang diuji dengan kelapangan serta kekayaan.

 

Setiap orang memiliki bentuk ujian yang berbeda. Karena itu, jangan mudah membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.

 

Kita melihat orang lain memiliki harta yang banyak, sementara kita hidup sederhana. Kita melihat orang lain mendapatkan kemudahan, sementara kita harus berjuang menghadapi kesulitan.

 

Padahal, kita tidak mengetahui seluruh keadaan mereka. Bisa jadi orang yang terlihat bahagia juga sedang menghadapi persoalan yang tidak kita ketahui.

 

Oleh karena itu, jangan jadikan ujian sebagai alasan untuk berputus asa. Hadapilah dengan sabar, carilah jalan keluar yang halal, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan ragu meminta bantuan kepada orang yang mampu menolong.

 

Ingatlah, kesulitan bukan bukti bahwa Allah membenci kita. Ujian dapat menjadi sarana untuk menghapus dosa, menguatkan iman, dan meningkatkan derajat seorang hamba apabila dihadapi dengan iman dan amal saleh.

 

3. Yakinlah! Bahwa Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

 

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

 

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

 

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS. Asy-Syarh: 5–6)

 

Hadirin yang dimuliakan Allah,

 

Allah mengulang kabar tentang kemudahan bersama kesulitan. Ini menjadi pengingat agar kita tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah.

 

Ketika usaha kita belum berhasil, jangan berhenti berikhtiar. Ketika doa belum terwujud sesuai harapan, jangan berhenti berdoa. Ketika kita terjatuh dalam kesalahan, jangan terus-menerus tenggelam dalam penyesalan, tetapi segeralah bertaubat dan memperbaiki diri.

 

Kemudahan yang Allah berikan bisa hadir melalui jalan keluar dari masalah, pertolongan orang lain, kekuatan hati untuk bertahan, atau kesempatan untuk mendapatkan pahala melalui kesabaran.

 

Karena itu, jangan mengukur kasih sayang Allah hanya dari banyaknya harta, mudahnya urusan, atau terpenuhinya semua keinginan kita.

 

Terkadang nikmat terbesar bukanlah mendapatkan apa yang kita inginkan, melainkan diberikan hati yang sabar, iman yang kokoh, dan kemampuan untuk tetap taat kepada Allah dalam keadaan apa pun.

 

4. Yakinlah! Akan Rahmat dan Ampunan Allah yang Luas

 

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

 

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)

 

Hadirin rahimakumullah,

 

Di antara bentuk husnuzan kepada Allah adalah tidak berputus asa dari ampunan-Nya.

 

Mungkin di antara kita ada yang memiliki masa lalu yang kelam. Ada yang pernah melakukan kesalahan besar. Ada yang merasa jauh dari Allah karena banyaknya dosa dan kelalaian.

 

Namun, yakinlah pintu taubat masih terbuka, jangan biarkan dosa menjadikan kita putus asa dari rahmat Allah.

 

Allah memerintahkan kita untuk kembali kepada-Nya. Taubat bukan sekadar penyesalan, tetapi juga meninggalkan dosa, bertekad tidak mengulanginya, dan mengembalikan hak orang lain apabila kesalahan tersebut berkaitan dengan hak manusia.

 

Jangan mengatakan, “Saya sudah terlalu banyak dosa, tidak mungkin Allah mengampuni saya.”

 

Sebaliknya, katakanlah dalam hati, “Saya telah banyak melakukan kesalahan, maka saya harus segera bertaubat. Allah Maha Pengampun dan saya tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya.”

 

Semakin besar dosa yang kita sesali, semakin kuat pula tekad kita untuk memperbaiki diri dan kembali kepada Allah.

 

5. Yakinlah Allah akan Memberi jalan keluar dan Rezeki yang tidak disangka.

 

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

 

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝٢ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ

 

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ

 

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Talaq: 2 dan 3)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

 

Yakinlah, pertolongan Allah itu nyata. Tetaplah bertakwa, bersabar, dan bertawakal kepada-Nya.

Ketika jalan terasa buntu, Allah mampu membukakan jalan keluar.

Ketika rezeki terasa sempit, Allah mampu mendatangkannya dari arah yang tidak pernah kita sangka.

 

Husnuzan kepada Allah harus berjalan bersama ikhtiar dan tawakal. Kita tidak boleh hanya menunggu pertolongan tanpa melakukan usaha yang benar.

 

Ketika mengharapkan rezeki, kita bekerja dengan cara yang halal. Ketika mengharapkan keluarga yang saleh, kita mendidik keluarga dengan ilmu dan keteladanan. Ketika mengharapkan kesehatan, kita berusaha menjaga kesehatan dan mencari pengobatan yang diperlukan. Ketika mengharapkan ampunan, kita bertaubat dan memperbaiki amal.

 

Setelah berusaha, kita serahkan hasilnya kepada Allah.

 

Apabila hasilnya sesuai harapan, bersyukurlah. Apabila hasilnya belum sesuai harapan, evaluasilah usaha kita, perbaiki kekurangan, dan teruslah melangkah dengan penuh harapan.

 

Kita tidak mengetahui seluruh hikmah di balik ketetapan Allah. Karena itu, jangan sampai kegagalan membuat kita berhenti berbuat baik, dan jangan sampai keberhasilan membuat kita lupa kepada-Nya.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

 

Dari seluruh penjelasan ini, marilah kita mengambil pelajaran bahwa husnuzan kepada Allah merupakan sikap hati yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ketika mendapatkan nikmat, kita bersyukur. Ketika menghadapi ujian, kita bersabar. Ketika berbuat dosa, kita bertaubat. Ketika memiliki keinginan, kita berdoa dan berikhtiar. Ketika menghadapi hasil yang berbeda dari harapan, kita bertawakal dan terus memperbaiki diri.

 

Janganlah kita menilai kasih sayang Allah hanya dari terpenuhinya keinginan kita. Bisa jadi sesuatu yang kita inginkan bukanlah yang terbaik bagi kita. Sebaliknya, sesuatu yang belum kita sukai mungkin mengandung pelajaran yang berharga.

 

Marilah kita senantiasa berhusnuzan kepada Allah, tanpa meninggalkan kewajiban untuk berusaha, memperbaiki diri, dan menaati perintah-Nya.

 

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

 

KHUTBAH KEDUA:

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

 

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

 

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

 

Marilah kita kembali mengingat bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian. Tidak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan, dan tidak semua yang kita alami dapat kita pahami hikmahnya saat ini.

 

Namun, seorang mukmin tidak boleh berburuk sangka kepada Allah سبحانه وتعالى.

Rasulullah ﷺ menyampaikan firman Allah سبحانه وتعالى dalam hadis qudsi:

 

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

 

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadirin rahimakumullah,

 

Hadis ini mengajarkan kepada kita agar senantiasa berbaik sangka kepada Allah, yakinlah akan rahmat, ampunan, dan pertolongan Allah سبحانه وتعالى.

 

Ketika kita berdoa, yakinlah bahwa Allah mendengar doa kita. Ketika kita bertaubat, berharaplah kepada ampunan-Nya. Ketika menghadapi kesulitan, jangan kehilangan harapan terhadap pertolongan-Nya.

 

Namun, husnuzan bukan berarti kita boleh bermalas-malasan dan mengabaikan kewajiban.

Berprasangka baik kepada Allah harus disertai dengan ketaatan, ikhtiar, doa, taubat, dan tawakal.

 

Orang yang berhusnuzan kepada Allah tetap bekerja ketika mengharapkan rezeki, tetap berobat ketika sakit, tetap memperbaiki diri ketika melakukan kesalahan, dan tetap berdoa ketika menghadapi kesulitan.

 

Karena itu, mari kita jaga hati kita dari buruk sangka kepada Allah. Jangan sampai kesulitan membuat kita berputus asa, jangan sampai musibah membuat kita meninggalkan ibadah, dan jangan sampai dosa membuat kita enggan bertaubat.

 

Kita memohon kepada Allah agar diberi hati yang tenang, iman yang kokoh, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan kemampuan untuk senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya.

 

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَصِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَقُوَّةَ الْإِيمَانِ بِكَ.

 

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا سَلِيمَةً، وَنُفُوسًا مُطْمَئِنَّةً، وَأَلْسِنَةً ذَاكِرَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً مُتَقَبَّلَةً.

 

اللَّهُمَّ إِذَا ابْتَلَيْتَنَا فَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ، وَإِذَا أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا فَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ، وَإِذَا أَذْنَبْنَا فَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ.

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوبَنَا، وَفَرِّجْ هُمُومَنَا، وَنَفِّسْ كُرُوبَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَارْزُقْنَا مِنْ حَيْثُ لَا نَحْتَسِبُ.

 

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا وَدُنْيَانَا وَآخِرَتَنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا أَهْلِينَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ وَطَاعَتِكَ.

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِمُعَلِّمِينَا، وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

 

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.